Tribun Otomotif

Honda Pertimbangkan untuk Kurangi Rantai Pasokan dari China

beberapa perusahaan telah berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada China menyusul plockdown imbas Covid-19 di Shanghai

Penulis: Mikael Dafit Adi Prasetyo
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Honda Pertimbangkan untuk Kurangi Rantai Pasokan dari China
Foto Pemda Suzuka
Pabrik Honda di Suzuka. Honda Motor Company, produsen motor dan mobil yang berbasis di Jepang, sedang mempertimbangkan untuk membangun rantai pasokan terpisah demi mengurangi ketergantungannya pada China. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Honda Motor Company, produsen motor dan mobil yang berbasis di Jepang, sedang mempertimbangkan untuk membangun rantai pasokan terpisah demi mengurangi ketergantungannya pada China.

Banyak perusahaan besar Jepang telah membangun pusat produksi di China, tetapi baru-baru ini terjadi gangguan produksi akibat dari lockdown terkait Covid-19.

Ada juga kekhawatiran yang mendalam tentang dampak ketegangan antara Amerika Serikat dan China.

Baca juga: SPK Honda Meningkat 30 Persen di GIIAS 2022, Brio Dominasi Pesanan

Dilansir dari Reuters, Kamis (25/8/2022) hampir 40 persen suku cadang mobil Honda diambil dari pemasok yang berasal China.

“Honda akan terus mempertahankan rantai pasokannya di China untuk pasar domestik, sembari membangun rantai pasokan terpisah untuk pasar di luar China,” kata laporan Sankei. Namun, tidak disebutkan dari mana ia mendapatkan informasi tersebut.

Seorang juru bicara Honda mengatakan, laporan Sankei bukanlah sesuatu yang diumumkan oleh perusahaan, menambahkan bahwa pihaknya telah bekerja untuk meninjau dan melindungi risiko rantai pasokannya secara umum.

"Tinjauan rantai pasokan dari China dan lindung nilai risiko adalah elemen yang perlu dipertimbangkan, tetapi tidak sama dengan tujuan pemisahan," kata juru bicara itu.

Sebelumnya, Pemerintah Jepang telah menawarkan insentif kepada perusahaan untuk membawa produksinya kembali ke Jepang, meskipun penyerapan tampaknya lemah, dengan beberapa eksekutif dan analis mengatakan akan sulit bagi Japan Inc untuk secara tiba-tiba pindah dari pasar di mana mereka terus membangun pusat produksi dan logistik.

Namun demikian, beberapa perusahaan telah berusaha untuk mengurangi ketergantungan pada China menyusul plockdown imbas Covid-19 di Shanghai.

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Merosot, Pemerintah China Suntikan 1 Triliun Yuan untuk Stabilkan Krisis

Di sisi lain, produsen mobil Jepang lainnya yakni Mazda Motor Corp meminta pemasok suku cadangnya untuk meningkatkan stok di Jepang dan memproduksi komponen di luar China.

Hal tersebut dilakukan Mazda setelah lockdown akibat Covid-19 di China yang membuat pasokan tidak stabil dan memaksanya untuk menutup produksi dalam negeri selama 11 hari pada bulan April dan Mei.

Mazda mengatakan bahwa pihaknya akan berusaha untuk memasukkan persediaan domestik yang lebih tinggi dan diversifikasi produksi di luar China, ketika membentuk kontrak dengan pemasok untuk merancang model-model baru dalam jangka panjang.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas