Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

PHM Optimasikan Operasi untuk Keberlanjutan WK Mahakam

Para ahli perminyakan di PHM telah mengembangkan berbagai inovasi yang aman, sehingga mampu mempercepat pengeboran sumur-sumur baru.

PHM Optimasikan Operasi untuk Keberlanjutan WK Mahakam
dok. Pertamina
Lapangan Bekapai masih mampu memproduksi minyak dan gas dalam jumlah yang signifikan meski telah berusia lebih 40 tahun. 

TRIBUNNEWS.COM – Hampir dua tahun sejak PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menjadi operator di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, berbagai upaya optimasi operasi terus ditempuh demi mengoptimalkan produksi dari WK minyak dan gas bumi yang telah mature ini agar dapat mencapai target yang telah ditetapkan.

Sejumlah langkah dilaksanakan untuk aktivitas di bawah permukaan (subsurface), di atas permukaan (surface), dan operasi pengeboran. Optimasi operasi produksi itu antara lain: melakukan buka tutup sumur atau Shut In Build Up (SIBU) di sumur-sumur tua secara sistematis, memproduksi migas di zona dangkal, perforasi reservoir minyak di lapangan-lapangan gas dll.

pertamina-160819-1
Lapangan Tambora, yang telah dieksploitasi sejak 1984, melalui berbagai upaya optimal tetap menyumbang produksi gas bagi WK Mahakam.

Sedangkan untuk fasilitas permukaan dilakukan: optimasi gas untuk fuel dan flare, mengalihkan tekanan di Lapangan Tambora dari medium pressure ke low pressure guna meningkatkan produksi  gas, mempersingkat durasi perawatan fasilitas produksi dengan berbagai inovasi agar memangkas pengurangan produksi akibat planned shutdown dan lain-lain.

Dalam hal pengeboran, para ahli perminyakan di PHM telah mengembangkan berbagai inovasi yang aman, sehingga mampu mempercepat  pengeboran sumur-sumur baru. Sejumlah rekor pernah dicapai, yakni menyelesaikan pengeboran sumur gas dalam 3,4 hari, dan sumur minyak hanya dalam tempo 4,98 hari di Lapangan Handil. Aplikasi berbagai teknologi juga  mempersingkat aktivitas pengeboran lebih dari 1,5 hari. Berbagai upaya dan inovasi tersebut telah berhasil memangkas biaya operasi di WK Mahakam dalam upayanya menahan laju penurunan produksi alamiah (natural decline) di lapangan-lapangan yang sebagian besar sudah mature dan berumur di atas 40 tahun.

WK Mahakam pernah tercatat dalam sejarah sebagai salah satu penghasil minyak bumi dan gas terbesar di Indonesia. Minyak mulai diproduksi di Lapangan Bekapai (1974), dilanjutkan dengan Lapangan Handil (1975). Sedangkan gas mulai diproduksi pada tahun 1985 dari Lapangan Tambora, diikuti Lapangan gas raksasa Tunu (1990) dan Peciko (1999).

Namun, karena migas adalah sumber daya alam tak terbarukan, setelah lebih dari 30 tahun Mahakam berproduksi, mulai 2006 produksi Lapangan gas Tunu dan Peciko menurun tajam (sekitar 15% per tahun), walau telah ditunjang dengan upaya pengeboran sumur sisipan yang terus menerus.

Berkat kegiatan eksplorasi yang dilanjutkan dengan pengembangan Lapangan gas Sisi Nubi (2007) dan South Mahakam (2012), WK Mahakam mencapai puncak produksi gas hingga 2.600 MMScfd pada tahun 2010 (wellhead), namun tetap terus turun setelahnya, dimana pada akhir periode operator sebelumnya, yaitu Desember 2017, produksi gas di WK Mahakam berkisar 1.060 MMscfd (wellhead).

Reservoir Sistem Delta

Tidak banyak yang mengetahui, bahwa WK Mahakam memiliki karakter reservoir yang unik karena lokasinya yang berada di delta Sungai Mahakam, dikenal dengan deltaic system, atau sistem delta. Di WK ini reservoir minyak dan gas berbentuk seperti ribuan kantong-kantong kecil yang tersebar di areal rawa dan laut seluas hampir 3.000 km², dengan kedalaman hingga 5.000 meter. Oleh sebab itu, produksi Mahakam sangat tergantung dari pengeboran sumur-sumur baru, karena reservoir yang berbentuk kantong-kantong terpisah tersebut (tidak terkoneksi satu sama lainnya) hanya bisa diproduksi melalui sumur-sumur baru. Apabila tidak dikembangkan sumur-sumur baru, maka produksi gas dan minyak di WK Mahakam hanya berasal dari reservoir-reservoir yang sudah tersambung dengan sumur yang ada.

pertamina-160819-2
Insan PHM terus melakukan yang terbaik untuk menjaga dan mempertahankan produksi Mahakam.

Dengan demikian, bila tidak ada produksi dari reservoir baru (melalui sumur-sumur baru), maka produksi akan turun sejalan dengan penurunan alamiah dari cadangan tersebut. Setelah 40 tahun diproduksi, apabila tidak dilakukan pengeboran sumur baru,  maka laju penurunan alamiah (natural decline rate) di Mahakam mencapai 50% - 60% per tahun.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Content Writer
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas