Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Cerita Nupis Cs Terkurung 18 Jam di Pondok Usai Disatroni Harimau Sebelum Akhirnya Dievakuasi Polisi

Karena takut diserang harimau, mereka pun harus bertahan selama 18 jam tak berani ke luar dari pondok, setelah melihat harimau melintas sejak Jumat.

Cerita Nupis Cs Terkurung 18 Jam di Pondok Usai Disatroni Harimau Sebelum Akhirnya Dievakuasi Polisi
SRIPOKU.COM/WAWAN/Sreenshoot/video
Kronologis 6 Warga Pagaralam Disatroni Harimau dan 18 Jam Terkurung, Dievakuasi Polisi Bersenjata 

Tak Ditemukan Jejak 7 Harimau di Desa Meringang

Pihak BKSDA bersama anggota Polsek Dempo Selatan melakukan penelusuran jejak, namun tidak ditemukan jejak-jejak harimau seperti yang dilaporkan warga.

"Kami sudah mengecek ke lokasi dan memeriksa kawasan tersebut. Namun kami tidak mendapati adanya jejak harimau, yang kami dapati banyak jejak kerbau di kawasan tersebut," ujar Wahid, petugas dari BKSDA, Sabtu (7/12/2019).

Disisi lain pihak BKSDA menjelaskan tidak menemukan sama sekali jejak harimau padahal sebelumnya petani melaporkan adanya kelompok harimau yang berkeliaran.

Baca: Hilang Sejak 15 Oktober, Dua Jenazah Diduga Pendaki Gunung Dempo Ditemukan di Jurang Sedalam 300 M

Baca: BREAKING NEWS: Satu dari Dua Jenazah Dievakuasi dari Gunung Dempo, Keluarga Pastikan Jasad Jumadi

Dijelaskan Wahid, berdasarkan sifat harimau yang diketahui pihak BKSDA, sangat jarang sekali harimau berkeliaran secara berkelompok.

"Harimau itu hewan soliter (menyendiri) yang sangat jarang berkelompok apalagi harimau dewasa. Jadi jika ada petani yang melihat harimau lebih dari satu kami sangat meragukan hal itu," jelasnya.

Namun pihaknya tetap menampung informasi dari warga tersebut sembari melakukan penyisiran.

Pihak BKSDA meminta agar warga segera menghubungi pihaknya dari pada menyebar berita ke medsos, hal itu hanya akan merugikan diri sendiri dan membuat resah.

Sebab jika ada laporan maka mereka siaga 24 jam dan secepatnya bertindak.

"Kami mendapati sejumlah informasi bahwa adanya penemuan jejak harimau di beberapa lokasi. Namun dari info yang kita dapat ada yang tidak benar atau hanya hoaks saja," ujar Wahid, petugas BKSDA Sumsel setelah evakuasi petani di eks transat Desa Meringang, Sabtu (7/12).

Ia mencontohkan, laporan warga yang melihat jejak harimau di Desa Pagardin Kota Pagaralam dan Desa Tanjung Agung Kecamatan Tanjung Sakti ternyata setelah diteliti bohong belaka.

"Saat mendapat laporan kami bersama tim langsung ke lokasi untuk melihat langsung jejak harimau yang dikatakan warga tersebut. Namun berdasarkan hasil pantauan dan pengamatan tim, jejak tersebut palsu dan diduga sengaja dibuat oknum tidak bertanggung jawab untuk menambah keresahan warga," tambah Wahid.

Foto Ilustrasi : Jejak kaki Harimau kini muncul di Desa Rimba Candi, Kelurahan Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam akhir pekan tadi
Foto Ilustrasi : Jejak kaki Harimau kini muncul di Desa Rimba Candi, Kelurahan Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam akhir pekan tadi (Istimewa)

Pihak BKSDA Sumsel berharap agar masyarakat yang mendapati jejak harimau di kawasan mereka segera melaporkan langsung ke pihak terkait baik itu BKSDA atau Polisi.

"Jika ada penemuan jejak laporkan dahulu dan jangan langsung di share ke media sosial agar tidak membuat keresahan di masyarakat," imbaunya.

Warga Tak Berani ke Kebun

Sebelumnya sejumlah petani di kawasan pertanian eks transaat Desa Meringang Kecamatan Dempo Selatan dievakuasi dari kebun setelah ada laporan harimau berkeliaran di lahan pertanian warga.

Polres Pagaralam melalui Polsek Dempo Selatan, anggota TNI dan BKSDA mengerahkan personelnya untuk melakukan evakuasi.

Berdasarkan informasi yang diterima Sripo, Sabtu (7/12/2019), polisi menerima laporan warga ada harimau yang berkeliaran di lokasi eks transat tersebut.

Bahkan ada laporan petani yang menyebutkan melihat tujuh harimau sekaligus yang berkeliaran.

Sarjono, seorang petani segera meninggalkan kebun miliknya saat mendengar adanya penampakan harimau tersebut.

"Saya memang sudah mendapat kabarnya sejak Senin lalu. Daripada terjadi apa-apa saya lebih memilih turun ke desa dan meninggalkan sementara kebun sampai dinyatakan aman," ujarnya saat ditemui di lokasi evakuasi Desa Meringang.

Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Kronologis 6 Warga Pagaralam Disatroni Harimau dan 18 Jam Terkurung, Dievakuasi Polisi Bersenjata

Editor: Dewi Agustina
Sumber: Sriwijaya Post
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas