Cerita Anak Asal Sleman dengan HIV/AIDS, Ditinggal Orang Tua hingga Ditolak Panti Asuhan
Begitu hendak dititipkan ke panti asuhan, kebanyakan dari pengurus menolaknya dengan alasan anak tersebut terpapar HIV/AIDS.
Editor: Sanusi
Dia menjelaskan, saat ini ada 150 anak dengan HIV/AIDS yang tersebar di DIY dan hampir separuh dari jumlah itu telah ditinggal oleh orang tuanya.
Ana berharap semua panti asuhan di DIY dapat menerima anak dengan HIV/AIDS. Agar persoalan sulitnya penanganan HIV/AIDS pada anak segera teratasi. Pihaknya juga mendorong pemerintah daerah agar mulai memikirkan persoalan tersebut.
Meski tak dimungkiri bahwa mayoritas KPA di masing-masing daerah merger dengan dinas kesehatan (dinkes), sementara saat ini dinkes sedang fokus penanganan pandemi.
"Tetapi harapannya seluruh panti asuhan di DIY dapat menerima anak dengan HIV/AIDS. Serta tetap mendorong pemda untuk memikirkan hal ini," tandasnya.
Masih sulit
Sekretaris Jaringan Indonesia Positif (JIP) DIY, Magdalena Diah Utami mengatakan, masih banyak pengurus panti asuhan yang enggan menerima anak dengan HIV/AIDS.
Salah satu contoh, Magda menceritakan nasib salah satu anak dengan HIV/AIDS asal Berbah, Sleman. Anak tersebut, menurutnya, sangat membutuhkan penanganan, baik itu suplai obat maupun dukungan moral dan tempat tinggal.
Baca juga: Covid-19 Berdampak Menghancurkan Bagi Pasien HIV, TB dan Malaria
Berdasarkan pertemuan dengan Dinas Sosial (Dinsos) DIY maupun Dinsos Kabupaten/Kota, dijelaskan olehnya pihak Dinsos DIY telah berkoordinasi dengan Dinsos Sleman. Selain itu mereka juga sudah melayangkan perhatian kepada Balai Rehabilitasi Sosial Perempuan dan Anak (BRSPA)
"Hasil koordinasi dengan BRSPA lagi-lagi kami terbentur dengan regulasi yang njelehi (sulit), yang mengotakan penanganan masalah sosial yaitu UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintah daerah," katanya, saat dikonfirmasi, Rabu (20/10/2021).
Di dalam UU tersebut dijelaskan, untuk penanganan HIV/AIDS menjadi kewenangan pemerintah pusat. Dengan ketentuan itulah, pemerintah daerah dinilai kurang sigap dalam memberikan penanganan terhadap para survivor atau penyintas ODHA.
"Mereka kalau tidak patuh akan menjadi masalah terus-menerus di saat ada pelaksanaan audit, njelehi pokoknya," jelas Magda.
Dia mengakui, butuh usaha yang besar untuk menyatukan visi bagi para pengurus panti asuhan agar bisa menerima ADHA. Oleh sebab itu dirinya berharap Pemerintah DIY segera mengambil langkah untuk memulai pelayanan ADHA di dalam panti asuhan. (hda)
Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Cerita Anak Asal Sleman dengan HIV/AIDS, Ditinggal Ortunya Susah Cari Panti Asuhan
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.