Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

BPPT Kembangkan DDR Madeena, Alat Rontgen X-Ray untuk Tentukan Status Pasien Terpapar Covid-19

BPPT mengembangkan alat radiografi sinar-x 'Direct Digital Radiography (DDR) Madeena', untuk inovasi alkes yang menentukan status pasien covid-19.

BPPT Kembangkan DDR Madeena, Alat Rontgen X-Ray untuk Tentukan Status Pasien Terpapar Covid-19
kompas.com
Ilustrasi dokter periksa hasil rontgen. BPPT Kembangkan DDR Madeena, Alat Rontgen X-Ray untuk Tentukan Status Pasien Terpapar Covid-19 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) saat ini tengah mengembangkan alat radiografi sinar-x yang disebut 'Direct Digital Radiography (DDR) Madeena', sebagai inovasi alat kesehatan (alkes) yang bisa mendukung substitusi impor.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan bahwa inovasi yang tengah masuk dalam tahap pengembangan ini memiliki kegunaan sebagai alat penentu status pasien terpapar virus corona (Covid-19) untuk tingkatan ringan (mild), sedang (moderate) atau berat (severe).

Baca juga: Dr.Lois Sebut Kematian Pasien Covid Dipicu Interaksi Obat, Guru Besar Farmasi UGM Jelaskan Faktanya

Baca juga: Apa Itu Terapi Plasma Konvalesen? Terapi bagi Pasien Covid-19 Gejala Berat, Ini Penjelasannya

"Dalam gelombang Covid yang kedua ini, BPPT juga sedang mengembangkan Direct Digital Radiography Madeena, sebuah alat radiografi sinar-x (x-ray) yang memungkinkan menentukan status pasien terpapar Covid-19," kata Hammam, dalam keterangan resminya, Sabtu (10/7/2021).

Perlu diketahui, berdasar pada data yang dimiliki Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), terdapat 8.000 alat rontgen (x-ray) yang tersebar di berbagai fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) di Indonesia.

6.000 diantaranya merupakan alat rontgen konvensional yang berpotensi digantikan DDR.

Namun terdapat sejumlah pertimbangan yang membuat DDR tidak dipilih banyak fasyankes di Indonesia, satu diantaranya karena alat rontgen ini memiliki harga yang cukup mahal.

Ilustrasi pasien Covid-19 - Tiga orang dari satu keluarga yang terdiri dari seorang ibu hamil, ayah, serta ibunya maninggal di Surabaya karena positif Covid-19 dan berstatus PDP.
Ilustrasi pasien Covid-19 -. (EPA-Efe/STR)

Mirisnya, mayoritas rumah sakit yang memiliki DDR ini memasok alat kesehatan (alkes) tersebut justru melalui impor.

Sehingga penting untung mengembangkan inovasi alkes karya anak bangsa ini sebagai substitusi impor.

"Harga DDR yang mahal menjadi salah satu alasan banyak fasyankes yang belum beralih ke alat rontgen modern ini. Sementara selama ini sebagian besar kebutuhan DDR rumah sakit di Indonesia dipasok oleh produk impor berbagai merek," tegas Hammam.

Halaman
12
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas