Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Tradisi Unik di Desa Tenganan Bali, Ayunan Tradisional dan Perang Pandan

Berkunjung ke Bali rasanya kurang lengkap jika tidak berkunjung ke desa tua ini.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Mohamad Yoenus
zoom-in Tradisi Unik di Desa Tenganan Bali, Ayunan Tradisional dan Perang Pandan
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ayunan tradisional berbahan kayu di Desa Tenganan, Pengringsingan, Karangasem, Bali. 

Laporan Wartawan Tribun Bali/Cisilia Agustina dan Saiful Rohim

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Berkunjung ke Bali rasanya kurang lengkap jika tidak berkunjung ke desa tua ini.

Jika anda gemar wisata tradisi, Desa Tenganan, Pengringsingan, Karangasem, Bali patut menjadi satu daftar kunjungan di Bali.

Desa ini tak hanya menjaga tradisi Perang Pandan yang sudah kesohor ke seluruh pelosok dunia.

Di sela-sela perhelatan Perang Pandan, salah satu desa tertua di Bali ini juga menampilkan prosesi bermain ayunan yang menjadi warisan leluhur.

Delapan orang daha (wanita) Desa Tenganan dengan mengenakan kain rangrang kuning-emas, menempati setiap tempat duduk dalam ayunan tradisional dari kayu yang dipasang di halaman desa, Senin (8/6/2015).

Ayunan
Ayunan tradisional berbahan kayu di Desa Tenganan, Pengringsingan, Karangasem, Bali. (Tribun Bali/Rizal Fanany)
Rekomendasi Untuk Anda

Di sisi kanan dan kiri tiang ayunan, dua orang pemuda bertugas memutar ayunan yang dinaiki delapan daha sekaligus itu.

Tiga kali diputar ke arah selatan, kemudian dilanjutkan lagi dengan tiga kali putaran ke utara, begitulah sistem permainan ayunan ini.

Masing-masing harus dilakukan minimal tiga kali.

Sorak sorai para pengunjung pun terdengar.

Ada yang terpukau, ada juga yang meringis ngeri karena melihat para daha diayunkan tinggi-tinggi.

Prosesi ayunan ini dilakukan usai digelarnya Perang Pandan di hari pertama yang jatuh pada Senin kemarin.

Setelah menyaksikan Perang Pandan, warga pun berbondong-bondong melihat prosesi ayunan yang dimulai pukul 16.30 Wita.

"Ayunan ini sebenarnya sebagai simbolisme kehidupan. Yang mana hidup ini terus berputar, kadang kita ini bisa ada di atas dan ada masanya juga kita berada di bawah," ujar I Ketut Sudiastika, satu di antara enam Kelian Adat Desa Tenganan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas