Berburu Durian di Banjar, Kalimantan Selatan, dan Tradisi Lokal yang Unik Setelah Menyantap Buah Ini
Durian-durian ini merupakan hasil hutan di Kabupaten Banjar seperti Desa Mandiangin, Karang Intan, Pengaron, Biih dan Sungai Alang.
Editor: Malvyandie Haryadi
Ada pula yang mematok harga Rp 50 ribu untuk lima biji durian berukuran kecil.
Di Kalimantan Selatan, ada semacam tradisi lokal tentang adat menyantap durian ini.
Tradisinya yaitu usai memakan durian kita harus meminum air putih yang ditumpahkan ke ceruk kulit duriannya.
Sebelum diminum airnya harus diaduk-aduk dengan jari kita hingga agak sedikit keruh.
Meminumnya pun harus langsung memakai kulit duriannya sebagai gelasnya, tidak boleh memakai media lain seperti gelas atau mangkuk.
Hal ini diyakini bagus untuk kesehatan karena durian mengandung kolesterol dan zat tertentu yang bisa membuat badan panas atau tekanan darah tinggi naik.
Jadi, fungsi air tersebut adalah untuk meredakan peningkatan kolesterol, tekanan darah tinggi dan suhu badan.
Mila pun sangat meyakini hal itu.
"Biasanya saya minum air itu terus usai makan durian. Kalau tidak, tenggorokan terasa sakit," jelasnya.
Temannya, Ayu, juga demikian.
Usai makan durian, jika tidak meminum air itu badannya akan terasa tak enak.
"Badan saya panas biasanya, rasanya tak enak. Tetapi kalau diminumi air itu jadi dingin, reda panasnya," katanya sambil memakan duriannya.
Pembeli lainnya, Firdaus, juga kerap melakukan tradisi itu usai memakan durian kendati tak ada pengaruh apa pun di badannya.
"Kalau saya tak masalah jika tidak meminum airnya. Walau begitu, tiap kali usai makan durian saya selalu meminumnya. Itu memang sudah adat dan keyakinannya orang Banjar seperti itu, biasa diajarkan para orangtua kami agar badan sehat," paparnya.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.