Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Mis, Intelektual Muda NU Garda Depan Pembela Minoritas

Gus Mis adalah seorang penulis produktif kelahiran Sumenep, Madura, 1977, juga figur Azhariyyin yang kontroversial dan unik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Husein Sanusi
zoom-in Gus Mis, Intelektual Muda NU Garda Depan Pembela Minoritas
Tribunnews.com/Y Gustaman
Intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU), Zuhairi Misrawi, saat mengunjungi kantor Tribunnews.com, Jakarta, Kamis (9/7/2015). 

Gus Mis memang berani dan cenderung nekat. Penulis menjadi teringat sepak terjang intelektual almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga kontroversial karena kedekatannya dengan Israel dan Tionghoa.

Saking dekatnya dengan Israel, Para Rabi menangis mendengar pidato-pidato Gus Dur. Sehingga banyak orang menyebut beliau sebagai "Sobat Israel dari Dunia Islam".

Sedangkan di mata etnis Tionghoa, Gus Dur disebut “Bapak Tionghoa”. Di sini, Gus Mis pantas disebut “Bapak Ahmadiyah”.

Secara objektif, Yahudi dan Ahmadiyah berposisi sama di mata Islam, yakni sama-sama tidak mengakui Nabi Muhammad saw sebagai Khatimul Anbiya’ (Penutup Para Nabi).

Dengan kata lain, kedekatan Gus Mis pada Ahmadiyah serupa kedekatan Gus Dur pada Yahudi dan Israel.

Apalagi Ahmadiyah di Indonesia bukan gerakan politik seperti Yahudi, yang menjadi kaum kolonial di tanah Palestina. Artinya, posisi kontrovesi intelektual Gus Mis di bawah kualitas Gus Dur.

Tidak cukup sampai di situ. Gus Mis layak ditempatkan sebagai Azhariyyin Indonesia pembela Ahmadiyah.

Rekomendasi Untuk Anda

Sebagai seorang alumni, hal ini menjadi signal adanya sebuah perjuangan yang kontradiktif dengan kurikulum dan Faham Al-Azhar itu sendiri.

Keunikan dan spesifikasi pilihan perjuangan Gus Mis menjadi alasan paling rasional penolakan atas dirinya di kalangan sebagian Azhariyyin sendiri. Di mata penulis, Gus Mis selangkah lebih ekstrim dari pada Gus Mus.

Gus Mus mengatakan, "Saya tidak membela, tapi orang NU itu memang harus bersikap tawassuth (tidak memihak), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang),".

Tema-tema semacam toleransi dan moderat ini diterjemahkan oleh Gus Mis ke dalam gerakannya dalam mengadvokasi Ahmadiyah.

Gus Mus tidak membela Ahmadiyah tapi menolak segala bentuk penyelesaian dengan kekerasan, sedangkan Gus Mis tegas menyatakan pembelaannya.

Dua Gus dari NU ini bagai dua kutub yang saling melengkapi kebutuhan umat manusia.

Akhir kata, kiprah intelektual Gus Zuhairi Misrawi mendorong penulis menyebutnya sebagai “Garda Depan Pembela Kaum Minoritas”.

Pro-kontra atas tindak tanduknya yang parsial itu tidak lantas menggugurkan visi-misi besarnya, Islam Ramah.

Halaman 3/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas