Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Sejarah Majapahit

Menelusuri Jalur Pelesir Raja Agung Majapahit Hayam Wuruk (1) 

Pu Prapanca mencatat perjalanan pesiar Raja Hayam Wuruk ke desa-desa dalam naskah Desawarnnana, kelak populer disebut kitab Negarakrtagama.

Menelusuri Jalur Pelesir Raja Agung Majapahit Hayam Wuruk (1) 
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Keindahan Air Terjun Madakaripura di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Senin (22/4/2013). Air terjun ini konon menjadi tempat Mahapatih Gajah Mada bersemadi pada zaman Majapahit. (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN) 

OLEH : NURHADI RANGKUTI, Purbakalawan

Purbakalawan Nurhadi Rangkuti
Nurhadi Rangkuti, arkeolog yang kini menyebut dirinya purbakalawan menulis penelusuran jejak pesiar Raja Hayam Wuruk

"TIAP bulan sehabis musim hujan, beliau (Raja Hayam Wuruk) pesiar keliling seluruh negara. Naik kereta diiring semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi menteri, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta."

Nyatanya, tak ada kereta kencana dan para pembesar yang ikut. Mobil Hiace tua sendirian melaju kencang mencoba menerobos saluran waktu ke September 1359 Masehi.

Saat itu di Mojokerto, Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara, raja termashyur dari Majapahit, berangkat dari ibu kota Majapahit untuk mengunjungi desa dan kota di ujung timur Pulau Jawa.

Para penumpang di dalam mobil tua itu terlambat 640 tahun ketika meninggalkan ibukota Majapahit (kini tinggal puing di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur).

Mereka menyusul rombongan Hayam Wuruk yang pergi menuju tempat favorit sang raja di tenggara ibukota.

Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling. Desa Sima di sebelah selatan Jalagiri, di sebelah timur pura ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan.

Girang melancong mengunjungi Wewe, Pikatan setempat dengan Candilima. Itulah isi kitab Nagara-kretagama pupuh 17 yang dibaca perlahan-lahan Drs Budi Santoso Wibowo, arkeolog dari SPSP Jawa Timur, penumpang mobil tua itu.

Kitab karya Mpu Prapanca itu yang digubah sekitar 1365, menjadi pedoman para penumpang Hiace dibantu petunjuk dari peta topografi terbitan 1943.

Pada sebuah tempat bertemunya sungai-sungai kecil, mobil berhenti di depan kompleks makam penduduk desa. Wow, akhirnya sampai juga di Candilima.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Setya Krisna Sumarga
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
berita POPULER
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas