Tribunners
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

Sekilas Sejarah, Keutamaan Puasa dan Wirid Dalailul Khairat

Banyaknya umat muslim kala itu mengamalkan Dalailul Khairat. Jumlah murid yang menimba ilmu dari Syeikh Jazuli terhitung 12.765 orang

Sekilas Sejarah, Keutamaan Puasa dan Wirid Dalailul Khairat
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon 

Sekilas Sejarah, Keutamaan Puasa dan Wirid Dalailul Khairat.

Oleh: KH. Imam Jazuli Lc., M.A.*

TRIBUNNEWS.COM - Dalailul Khairat adalah sebuah kitab berisi kumpulan sholawat Nabi. Kitab ini disusun oleh pengarangnya berdasar jumlah hari, dari Ahad sampai Sabtu. Tujuannya agar bisa dijadikan wiridan setiap hari oleh para pengamalnya. Pengarang Dalailul Khairat adalah Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli (w. 870 H.), seorang waliyullah besar kelahiran Maroko, Qutubuzzaman pada masanya.

Syeikh al-Jazuli juga seorang pengkader para ulama besar dan da’i ulung. Beberapa murid beliau yang terkenal adalah Syeikh Abu Abdullah Muhammad as-Shaghir as-Suhali dan Syeikh Abu Muhammad Abdul Karim al-Mandzari. Di tangan mereka inilah, banyak orang tergerak menekuni tarekat sebagai jalan menuju Allah swt.

Banyaknya umat muslim kala itu mengamalkan Dalailul Khairat. Jumlah murid yang menimba ilmu dari Syeikh Jazuli terhitung 12.765 orang. Mereka datang dari berbagai penjuru kota dengan latar belakang sosial yang beragam. Tidak saja menuntut ilmu, tetapi juga menyampaikan keluh kesah pada sang Syeikh, mencari berkah dan karomah, serta meminta pertolongan sesuai kebutuhan masing-masing.

Menurut Syeikh Abdul Majid asy-Syarnubi al-Azhari, Syeikh al-Jazuli sendiri adalah seorang pengamal Tarekat Syadziliah. Sebagai wali besar, banyak karomah yang lahir dari tangan Syeikh al-Jazuli. Sebagai kumpulan kitab sholawat Nabi, Dalailul Khairat mendatangkan manfaat yang luar biasa bagi umat (asy-Syarnubi, Syarh Dalailul Khairat, Qohirah: Maktabah al-Adab, 1994:4).

Menurut Syeikh Yusuf an-Nabhani, sebelum mengarang kitab Dalailul Khairat ini, Syekh al-Jazuli bertemu dengan seorang anak kecil perempuan (shobiah) pada kesempatan yang tidak disengaja. Gadis kecil ini digambarkan sebagai seorang yang penuh karomah karena mengamalkan sholawat Nabi. Pada saat itu, Syeikh al-Jazuli pergi ke sebuah sumur untuk berwudu. Tiba-tiba, air dalam sumur kering.

Tidak berselang lama, seorang bocah kecil terlihat berdiri di atas tempat yang tinggi. Syeikh al-Jazuli bertanya, “Siapa dirimu?”. Gadis itu menjawab seraya menyinggung, “engkau ini lelaki yang banyak dipuji orang karena kebaikan. Tetapi, mengapa engkau tampak kebingungan hanya karena air tidak mau keluar dari dalam sumur?!”

Perempuan kecil itu meludah ke atas tanah. Atas izin Allah swt., air menyembur ke permukaan. Syeikh al-Jazuli pun berwudu menggunakan air yang muncul karena karomah itu. Selesai berwudu, Syeikh bertanya: “dari mana engkau mendapatkan derajat mulia semacam ini?” Perempuan kecil itu menjawab, “karena aku sering membaca sholawat kepada dia (Nabi), yang setiap kali berjalan di suatu tempat, binatang-binatang liar pun akan tunduk kepadanya.”

Mendengar jawaban puitis semacam itu, hati Syeikh al-Jazuli tergetar, lalu berkomitmen mengarang kitab Dalailul Khairat , yang berisi sholawat penuh pujian puitis atas Kanjeng Nabi Muhammad Saw (Yusuf bin Ismail an-Nabhani, Jami’ Karomat al-Awliya’, Gujarat: Markaz Ahli Sunnat Barakat Ridha, 2011: 276-277).

Halaman
1234
Ikuti kami di
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
berita POPULER
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas