Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Gekeng Deran, Terobosan Emas di Semesta Kesulitan

Dengan hamparan potensi lahan seluas 200 hektar, Gekeng Deran menyimpan kekuatan besar untuk melejit pada saat yang tepat.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Gekeng Deran, Terobosan Emas di Semesta Kesulitan
Istimewa
Anton Doni Dihen di Gekeng Deran. Gekeng Deran menyimpan kekuatan besar untuk melejit pada saat yang tepat. 

Hal menarik dari kontrak kerja sama ini adalah bahwa pemilik ulayat dan para penggarap sebelumnya tidak mendapat bagian apa-apa dari penyerahan tanah selama masa kontrak 4 tahun ini.

Baca juga: Jokowi: Pentingnya Melibatkan BUMDes untuk Transformasi Ekonomi

Mereka ikhlas, tidak ada uang siri pinang, juga tidak ada porsi bagi hasil. Semuanya diikhlaskan.

Tanah seluas 60 hektar tersebut kemudian ditawarkan kepada 79 petani aktif yang ada di desa tersebut.

Hasilnya, ada 42 petani yang menyatakan niat untuk mengelola kebun dalam pengorganisasian dan pengelolaan yang sepenuhnya ditangani Pemerintah Desa.

Alhasil, setelah penebasan, penataan lahan (tanpa pembajakan), input-input pengetahuan tentang pola tanam (antar baris 40 cm dan 70 cm), pembukaan baris, penanaman, penyiangan, perlakuan pupuk yang terbatas, dan pada akhirnya pemanenan, mereka boleh menorehkan prestasi yang membanggakan.

Mereka akhirnya bisa menghasilkan 200 ton jagung pipilan kering yang sudah dijual ke Pokphand (PT Charoen Pokphand Indonesia), perusahaan pakan ternak terbesar di Indonesia.

Hasil dengan rata-rata 3 ton per hektar tentu bukan hasil yang maksimal.

Rekomendasi Untuk Anda

Tetapi hasil itu tentu sudah sangat mendongkrak penghasilan petani dan pendapatan desa.

Dengan harga jual di tingkat petani sebesar Rp 4.400, seorang petani yang mengola 1 hektar lahan dapat memperoleh hasil lumayan.

Tiga ton dikalikan Rp 4.400, sama dengan Rp. 13.200.000. Penghasilan itu diperoleh dari biaya produksi yang sangat minimal, yakni tenaga kerja dan sedikit pupuk.

Sementara, Pemerintah Desa dan BUMDes yang menangani pemasaran, boleh mendapat margin Rp. 400 per kilogram dari penjualan beras pipilan kering ke Pokphand.

Margin tersebut diperoleh dari selisih harga penjualan di pabrik Pokphand Surabaya (Rp. 5.400 di hari kontrak penjualan) dan harga di tingkat petani (Rp 4.400) setelah dikurangi biaya transportasi dan marketing yang mencapai Rp 600 per kilogram.

Sehingga pendapatan desa di Tahun 2023 dapat menjadi Rp. 80 juta. Itu adalah pendapatan asli desa.

Peluang optimalisasi pendapatan dari usaha tani dan pasca panen ini tentu masih cukup luas.

Melalui pengolahan tanah yang lebih baik, pemupukan yang lebih tepat jenis dan dosis pemupukan, pemilihan benih yang lebih baik, dan waktu tanam yang lebih tepat.

Halaman 2/4

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas