Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Agus Widjojo, Jenderal Reformis Melawan Arus

Agus Widjojo, jenderal pemikir reformis, dikenang sebagai teladan intelektual TNI dan perajut luka bangsa.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Agus Widjojo, Jenderal Reformis Melawan Arus
Tangkapan Layar Yotube Lemhannas RI
AGUS WIDJOJO - Agus Widjojo, jenderal pemikir reformis, dikenang sebagai teladan intelektual TNI dan perajut luka bangsa. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Yophiandi Kurniawan
Penulis adalah Dosen di Universitas Paramadina dan Alumni Magister Hubungan Internasional Universitas Paramadina

KAMU hitung ada berapa pasang calon nanti?”, ujar Agus Widjojo, pada sekitar April 2014. Yang dimaksud Pak AW—demikian panggilan beberapa orang dekatnya—, adalah pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk 2014. Pak AW sedang menguji saya yang dia  tahu sedang di liputan politik dan keamanan. Tangkas saya menjawab,”Tiga. Prabowo, Aburizal Bakrie, Jokowi.”

Jawaban saya ditertawakan. “Wah tiga kebanyakan, coba pakai logika deh. Jangan pakai berita,”ujarnya.

Beberapa saat terdiam, saya setengah berbisik,“Aburizal gak dapat pasangan?” Saya tak yakin dengan jawaban saya. “Ya pokoknya cuma dua nanti, Prabowo dengan Hatta (Rajasa) dan Jokowi dengan JK,” ujarnya lagi.

Percakapan di klub golf—sekarang bernama The Maj—di seberang Plaza Senayan itu terjadi sebelum Pemilihan Legislatif 9 April 2014. Apalagi Pemilihan Presiden 9 Juni 2014.   

Buat Agus Widjojo—seorang jenderal bintang tiga TNI Angkatan Darat, mendapatkan informasi politik tentu tak sulit. Tapi, biasanya, informasi itu terpecah. Dan siapa menyangka, Aburizal saat itu betul-betul tak dapat pasangan?

Karena Partai Golkar adalah dua kekuatan utama partai yang kokoh. PDI Perjuangan, kekuatan lainnya yang sudah resmi mengusung Jokowi. Lalu bagaimana cara bisa memprediksi pasangan capres Prabowo adalah Hatta Rajasa dan Jokowi dengan Jusuf Kalla?

Rekomendasi Untuk Anda

Bahkan Agus juga memprediksi siapa yang menang dengan selisih tipis. Paling besar empat persen. Tak eksplisit diungkapkan Agus saat itu, tapi siapapun lawan bicaranya saat itu, dia memprediksi Jokowi yang menang pilpres 2014.

“10 tahun kita akan hepi hepi terus. Semua terasa ringan. Civil society terbelah,” ujarnya. Meski begitu, Agus tetap memberi ruang kesalahan dengan memprediksi apa yang terjadi bila Prabowo yang menang.

Diskusi dengan Pak AW senantiasa serasa mendapat informasi dan pengetahuan baru. Tapi, jangan coba-coba dengan pikiran kosong tanpa benak terisi pengetahuan atau pertanyaan-pertanyaan. Dia tak akan memberikan reaksi atau respons apapun. Malah yang ada hanya lempar lelucon.

Meski begitu, tak semua level informasi dibukanya. Bernarda Rurit, mantan wartawan TEMPO dan KompasTV yang kerap mendampinginya, mengatakan,”Pak AW itu punya sembilan layer (lapisan) informasi. Terserah dia, kepada siapa dan layer informasi itu dibuka.”

Meski punya banyak informasi dan mengolah dengan ciamik, Agus tak dikenal sebagai tokoh intelijen. Karir prajurit yang lulus AKABRI bersama Luhut Binsar Panjaitan—angkatan 1970-- ditapaki pelan-pelan, diantaranya menjadi Asisten Operasi Kasdam Siliwangi, Kepala Staf Kodam Jaya, Komandan Sekolah Staf Komando (Dansesko) ABRI, hingga Kepala Staf Panglma TNI dan Kepala Staf Teritorial atau Kaster.

Karir sebagai tentara memang mentereng, karena sampai bintang tiga. Tapi yang membedakan Agus dengan tentara lainnya adalah kemampuannya mengolah pengetahuan dan visinya melihat masa depan.

Tak banyak tentara yang punya ini. Lainnya yang seperti ini dan tersohor di masa itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY dan Agus Wirahadikusumah atau Agus WK. Mereka dikenal sebagai kelompok jenderal pemikir yang mumpuni kadar intelektualnya.  

Kemampuan intelektualnya makin terasah, dengan berguru di sejumlah institusi luar negeri, seperti Master of Military Arts and Sciences dari US Army Command and General Staff College.

Lalu juga pendidikan bidang keamanan nasional di institusi prestisius, US National Defense University—salah satu model pembentukan Universitas Pertahanan di Indonesia. Serta juga institusi non militer prestisius, George Washington University, sebagai lulusan master bidang kebijakan dan administrasi publik.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas