Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Agus Widjojo, Jenderal Reformis Melawan Arus

Agus Widjojo, jenderal pemikir reformis, dikenang sebagai teladan intelektual TNI dan perajut luka bangsa.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Agus Widjojo, Jenderal Reformis Melawan Arus
Tangkapan Layar Yotube Lemhannas RI
AGUS WIDJOJO - Agus Widjojo, jenderal pemikir reformis, dikenang sebagai teladan intelektual TNI dan perajut luka bangsa. 

Bahkan dia adalah senior fellow di Centre for Strategic and International Studies. Tempat ini adalah rumah yang nyaman di eranya buat para penstudi hubungan internasional dan para calon diplomat. Di sini, dan di The Maj, kami beberapa kali bertemu.

Kembali ke perbincangan tentang 2014, Agus membeberkan alasan mengapa Jokowi tampaknya yang bisa menang. Diantaranya adalah politik global, dukungan kelompok Islam mayoritas, dukungan sebagian besar TNI.

Meski akhirnya punya beberapa jabatan di era Jokowi—Gubernur Lemhanas dan Duta Besar Indonesia untuk Filipina--, Agus kritis memandang Jokowi sejak awal. Dalam satu diskusi lanjutan di The Maj dia pernah mengingatkan,” Jangan terlalu terpesona dengan sosok.

Coba kamu bilangin ke teman kamu itu.” Meski kemudian buru-buru dia maklumi,” Tapi susah ya kalau orang sudah jatuh cinta,” ujarnya diiringi tawa. Yang dia maksud adalah masifnya orang yang terpukau dengan kilau Jokowi. Sejak 2010 sebagai Walikota Solo, sampai Gubernur Jakarta, Jokowi ibarat meteor yang melesat, hingga dua periode jadi presiden.  

Dimas Oky Nugroho, akademisi yang pernah jadi teman diskusi Agus, menilai politik yang dipegang Agus adalah politik negara. Agus tak ingin sosok atau aktor mengalahkan sistem. Sistem harus bisa berjalan, sebagai syarat demokrasi. “Aktor penting kalau sistem buruk atau jangka pendek. Menengah dan panjang ya benahi sistemnya,” ujar Dimas.

Seperti Nelson Mandela

Salvo buat Agus Widjojo sudah ditembakan pada Senin 9 Februari siang. Agus dimakamkan  di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Tempat peristirahatan yang sama dengan sang ayah, Pahlawan Revolusi Sutoyo Siswomiharjo. Ayahnya adalah korban kemelut politik 1965.

Kemelut yang merupakan ekses politik global Perang Dingin waktu itu, antara liberalis kapitalis dengan pendulum Amerika Serikat dan komunisme dengan pendulum Uni Soviet—bersama RRT.

Rekomendasi Untuk Anda

Sang ayah diculik pasukan Cakrabirawa dan dibunuh di Lubang Buaya, dengan isu politik Gerakan Dewan Jenderal. Sutoyo dikenal sebagai polisi militer dengan kemampuan intelijennya. Waktu itu di Angkatan Darat, kedua hal inilah yang disegani. Apalagi Sutoyo adalah ajudan Jenderal Gatot Subroto.   

Namun, meski ayahnya jadi korban politik dengan Partai Komunis Indonesia atau PKI yang dituding, Agus seolah tak menyimpan dendam kesumat. Alih-alih memusuhi, Agus justru merangkul.

Termasuk ikut dalam pembentukan Forum Silaturahmi Anak Bangsa, FSAB yang menyatukan seluruh keturunan yang jadi korban prahara politik Indonesia. Tujuannya membalut luka bangsa, rakyat Indonesia yang punya leluhur dan sejarah kelompok masing-masing. PKI, DI/TII dan sebagainya—salah satu pendirinya adalah putra Kartosoewirjo, Sarjono. Mereka yang dicap pemberontak oleh rezim negara, Orde Lama dan Orde Baru, disatukan forum ini.

Melihat langkahnya, pernah terpikir, Agus mirip Nelson Mandela, tokoh politik korban apartheid Afrika Selatan, yang kemudian menjadi presiden. Memang Agus tak jadi presiden. Tapi langkahnya yang justru membalut luka, merangkul yang sewajarnya dianggap musuh—justru jadi teman, adalah langkah seorang pemberani, seperti Mandela. Yang mengampuni musuh-musuh politiknya.

Tentang peristiwa 1965, Agus melihatnya dengan kritis. Indonesia memang sering berada dalam kemelut politik. Korbannya banyak. Jiwa maupun luka dan harta serta sakit hati.

Macam-macam. Ada Permesta, PRRI, DI/TII, pertengkaran tiga bung atas arah politik Indonesia. Bung Besar—Soekarno, Bung Kecil—Sutan Sjahrir, dan Bung Hatta akhirnya pisah jalan. Justru setelah jadi tokoh depan layar—dan banyak tokoh lain di layar belakang panggung-- membidani Indonesia Merdeka.   

Relevan di Masa Yang Berubah

“Janganlah tentara ditarik-tarik lagi untuk masuk ke urusan sipil dan politik.” Ini kata Agus di Kuliah Umum Endgame yang digelar Gita Wirjawan School of Public Policy. Kuliah pada 10 Mei 2025 dengan mahasiswa dan umum yang memenuhi auditorium gedung Equity Tower.

Concern Agus pada peran TNI (juga Polri) sering diungkapkannya sejak 1998 hingga 2015. Di periode itu, khususnya masa SBY dan Megawati sebagai presiden, titik balik TNI dan Polri ditentukan. Agus kembali mengingatkan TNI yang mulai kembali ditarik-tarik politikus berlatar sipil untuk masuk politik. “Politik TNI seharusnya adalah politik negara,” ujarnya.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas