Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Agus Widjojo, Jenderal Reformis Melawan Arus

Agus Widjojo, jenderal pemikir reformis, dikenang sebagai teladan intelektual TNI dan perajut luka bangsa.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Agus Widjojo, Jenderal Reformis Melawan Arus
Tangkapan Layar Yotube Lemhannas RI
AGUS WIDJOJO - Agus Widjojo, jenderal pemikir reformis, dikenang sebagai teladan intelektual TNI dan perajut luka bangsa. 

Kuliah Agus, seperti seorang profesor antropologi politik. Agus memberi konteks budaya Indonesia dan Asia serta Barat dalam 2 jam lebih. Termasuk tentang budaya Indonesia yang cenderung feodal sehingga percaya sepenuhnya dengan otoritas dengan minim kekritisan.

Materi Agus sore itu memantik perdebatan dan diskusi mahasiswa-mahasiswi program magister GWSPP.

Kritik Agus adalah kritiknya sejak menjelang Reformasi 1998 terjadi. Tuntutan untuk penghapusan Dwifungsi ABRI dan penghapusan sebagian komando teritorial. Hal yang relevan kembali saat ini, di usia Reformasi yang hampir 28 tahun. Agus adalah pengkritik dari internal TNI Angkatan Darat.  

Agus tak sepenuhnya mengkritik komando teritorial. Karena komando teritorial TNI Angkatan Darat cukup sampai tingkat Komando Resort Militer atau korem dengan pimpinan seorang jenderal bintang satu. Sementara, komando distrik (kodim) dan rayon (koramil) sebaiknya dihapus.

Bersama SBY, Agus adalah dua jenderal yang diminta untuk membuat konsep Reformasi ABRI pasca Reformasi 1998 oleh Panglima ABRI waktu itu, Wiranto. Dalam konsep itu, paling tidak ada tiga hal yang penting dicatat generasi sekarang, milenial dan Gen Z. Yakni mengembalikan TNI ke profesionalismenya, yakni tidak berpolitik lagi dan tidak berbisnis. Di masa SBY, penataan bisnis TNI dilakukan SBY saat menjadi presiden dua periode 2004-2014.

Tentang Dwifungsi, tak adanya lagi Fraksi ABRI di MPR, mendapat dukungan Agus kala menjabat Wakil Ketua MPR dari Fraksi ABRI. ABRI terdiri dari TNI dan Polri, yang punya dua fungsi berbeda yakni pertahanan dan keamanan. Di dalam sistem demokrasi keduanya manut pada otoritas sipil, baik di pusat maupun di daerah—provinsi, kabupaten atau kotamadya, kecamatan, desa.

“Nah untuk yang ini, saya sepakat sekali dengan dia. Sipil harus kuat,” ujar Kiki Syahnakrie, mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Adik angkatan Agus di AKABRI ini—Kiki angkatan 1971—adalah kawan diskusi dan debat Agus yang hangat. Bahkan dalam forum tempat mereka berada, termasuk satu grup WhatsApp. Kiki punya banyak ide yang sama dengan Agus, sebagai jenderal berpikiran reformis. Kata Kiki, meski sering berdebat,”Tapi kami tetap dekat.”

Rekomendasi Untuk Anda

Tapi tentang kekuatan sipil, disayangkan, karena sejak Reformasi tak juga terkonsolidasi. Saling jegal dan kesemrawutan politik, termasuk urusan elektoral membuat kehidupan berbangsa Indonesia tak kunjung membaik. Malah munculnya oligarki kekuasaan—lebih dari sekedar konglomerat yang hanya dominan di ekonomi—membuat ekonomi dan politik Indonesia berbentuk seperti gelas koktail.

Agus Melawan Arus

Ide Agus di masa Orde Baru sebetulnya kerap membentur tembok untuk mengubah konsep teritorial dan peran TNI—dan Polri sebagai ABRI. Dia melawan arus utama dalam pemikiran ABRI yang saat itu sedang jaya-jayanya.

ABRI Masuk Desa, ABRI Manunggal dengan Rakyat, jargon-jargon yang mungkin asing di telinga dan benak Gen Y dan Gen Z yang mendominasi demografi Indonesia saat ini—lebih dari 50 persen. Tapi Agus tak surut dengan konsep-konsepnya tersebut. Hingga angin perubahan 1998 terjadi.

Sebagai seorang yang punya ilmu militer dan paham alam politik, Agus punya helicopter view sebagai seorang tentara yang juga diplomat dalam memandang dunia. Preskripsinya “senjata” budaya adalah yang pas bagi middle power seperti Indonesia. Ini yang beberapa kali diutarakannya. Lewat budaya yang khas, identitas Indonesia bisa dikenal di dunia, dan ini dilakukan secara menyatu sebagai implementasi politik luar negeri.  

Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan sekarang Tiongkok adalah negara-negara yang sukses mengekspor budayanya dengan identitas khasnya. Amerika dengan kebebasan, Jepang paduan kebebasan dan nilai-nilai local.

Korea Selatan dengan kebebasan dan budaya popnya. Dan Tiongkok yang mulai masif dengan drama pendeknya atau dikenal dengan istilah dracin atau drama China, plesetan dari penamaan drakor atau drama Korea yang populer sejak 2010 atau K-Pop dengan sejumlah artis dan grup vokalnya. India pun punya gayanya sendiri yang diekspor lewat film-film ala Bollywood.

Agus Widjojo sudah meninggalkan warisan yang bagus. Seperti ayahnya, AW adalah figur yang terhormat. Teladan agar para tentara, seorang abdi negara pembela pertahanan, harus juga punya intelektualitas yang baik.

Teladan Agus juga buat masyarakat sipil. Lengkapi intelektualitas saat mau berpolitik. Buat anak muda, jangan goyah dengan prinsip. Seorang Agus mencontohkan bahkan hingga melawan arus utama, dengan idenya mereformasi ABRI—TNI dan Polri. Sebagian berhasil, sebagian belum.

Pada 2022, saat Pak AW sudah berkantor di Manila, saya mengirim teks WhatsApp. Tentang yang diucapkannya pada April 2014, di The Maj. “Bapak benar semuanya tentang dua periode ini.” Jawabnya,”Yang mana ya?”, sambil diiringi emoticon tertawa. Lalu penutupnya,”Jangan terlalu serius.”

Sesuai Minatmu
Halaman 3/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas