Korban berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari oligarki, pejabat pemerintahan, hingga tokoh militer dan individu yang memiliki kedekatan dengan struktur kekuasaan negara.
Pemerintah Rusia umumnya menjelaskan kematian-kematian tersebut sebagai akibat bunuh diri, jatuh dari ketinggian, keracunan tidak disengaja, serangan jantung, atau kekerasan dalam rumah tangga.
Namun, media domestik Rusia jarang melakukan penyelidikan mendalam, sementara pemerintah hanya menyampaikan belasungkawa tanpa memberikan klarifikasi lebih lanjut.
Sejumlah akademisi dan analis Rusia yang kini berada di pengasingan menyatakan bahwa mereka enggan berbicara terbuka karena khawatir terhadap keselamatan pribadi.
Meski demikian, mereka menilai rentetan kematian ini berkaitan dengan perebutan kekuasaan internal, kontrol atas sumber daya strategis, serta upaya menyingkirkan potensi ancaman terhadap rezim.
Kondisi tersebut dinilai menciptakan atmosfer ketakutan di kalangan elite, sekaligus memperkuat cengkeraman kekuasaan melalui mekanisme intimidasi terselubung.
Pandangan serupa disampaikan oleh Profesor Jeffrey Winters, ilmuwan politik dari University of Illinois sekaligus penulis buku Oligarchs.
Menurutnya, hampir mustahil bagi tokoh-tokoh kaya dan berpengaruh di Rusia untuk meninggal secara misterius tanpa adanya keterlibatan kekuatan tertentu.
“Mereka adalah para miliarder dengan pengawal, akses layanan medis terbaik, sopir pribadi, serta perlindungan tingkat tinggi. Sulit membayangkan semua itu runtuh begitu saja tanpa campur tangan pihak tertentu,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski tidak dapat menyimpulkan secara langsung, logika politik menunjukkan bahwa pihak yang memungkinkan mereka menjadi berkuasa pula yang memiliki kemampuan untuk menyingkirkan mereka.
Ketidaksetiaan Dianggap Ancaman
Ukraina memanfaatkan rangkaian kematian mencurigakan ini untuk menyoroti kerasnya rezim Rusia serta menjelaskan kepada komunitas internasional mengenai risiko yang dihadapi siapa pun yang dianggap berseberangan dengan Kremlin.
Penasihat Presiden Ukraina, Mykhailo Podolyak, menegaskan bahwa dalam sistem kekuasaan Rusia, ketidaksetiaan sering kali berujung pada kematian.
Baca juga: Bom Mobil Tewaskan Jenderal Rusia di Moskow, Korban Ketiga dalam Setahun, Ukraina Diduga Dalangi
Sementara itu, mantan penasihat Gedung Putih untuk urusan Rusia, Fiona Hill, mengingatkan bahwa tidak semua kasus dapat disimpulkan secara seragam.
Namun ia menekankan bahwa rezim non-demokratis memang memiliki pola kekuasaan yang keras dan represif.
Dalam sebuah wawancara, Hill menyatakan bahwa apa yang terjadi merupakan bagian dari konflik Rusia yang lebih luas dengan Barat.
“Rusia telah berkembang menjadi lawan yang jauh lebih keras dari yang banyak diperkirakan. Peracunan, pembunuhan, serangan siber, sabotase, hingga intimidasi terhadap infrastruktur merupakan bagian dari satu pola besar,” ujarnya.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan