Setidaknya 500 orang tewas dalam demonstrasi yang terjadi sejak Desember lalu, yang dipicu oleh protes terhadap pemerintah atas memburuknya kondisi ekonomi di Iran dan meluas hingga menuntut perubahan politik.
Komentar Menteri Luar Negeri Iran pada hari Senin ditujukan untuk menjawab pernyataan Trump pada hari Minggu, yang mengatakan ia sedang mempertimbangkan opsi-opsi kuat untuk menanggapi kekerasan dalam protes anti-pemerintah di Iran, termasuk opsi intervensi militer.
AS mengambil posisi dengan menyatakan dukungan kepada para demonstran, sementara musuh bebuyutan Iran, Israel, mengonfirmasi bahwa agen mata-matanya sedang bekerja di Iran.
Trump, yang baru-baru ini memerintahkan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam intervensi Pasukan Khusus AS, mengatakan pertemuan sedang diatur dengan Iran untuk bernegosiasi tentang program nuklirnya.
"Tetapi kita mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan tersebut," kata Trump pada hari Minggu (11/1/2026).
Trump akan Beri Tarif 25 Persen ke Mitra Dagang Iran
AS tidak hanya mengeluarkan ancaman mengenai opsi militer terhadap Iran, namun juga memperluas sanksi terhadap mitra dagang Iran.
Trump mengatakan, negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran akan menghadapi tarif 25 persen untuk setiap bisnis yang dilakukan dengan AS.
Presiden dari Partai Republik itu mengumumkan keputusan tersebut dalam sebuah unggahan media sosial pada hari Senin, menyatakan keputusan itu final dan mengikat.
“Mulai sekarang juga, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen untuk semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat,” kata Trump dalam sebuah unggahan di situs webnya, Truth Social, Senin.
Belum jelas negara mana yang mungkin terpengaruh, tetapi ekonomi besar seperti Rusia, Cina, Brasil, dan Turki semuanya berdagang dengan Iran, yang telah dilanda protes dan kerusuhan anti-pemerintah yang meluas selama seminggu terakhir.
Irak dan Uni Emirat Arab juga merupakan mitra dagang penting bagi Iran, menurut basis data Trading Economics, dikutip dari Al Arabiya.
AS telah lama menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Iran, menyusul Revolusi Iran tahun 1979 yang membawa Ali Khamenei ke tampuk kekuasaan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Negara Paman Sam itu juga merasa terancam dengan program nuklir Iran, yang dikhawatirkan dapat memproduksi senjata nuklir dan mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, meski Iran membantahnya.
Selain itu, AS mendukung Israel sebagai sekutu dekatnya di Timur Tengah yang memusuhi Iran karena menuduh Republik Islam tersebut mendanai kelompok perlawanan seperti Hizbullah, Hamas Palestina, Houthi Yaman yang menargetkan Israel.
Pada Juni lalu, AS mendukung Israel dalam perang 12 hari, dengan mengebom fasilitas nuklir Iran di berbagai wilayah sebelum akhirnya mengumumkan berakhirnya perang pada 24 Juni 2025.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan