News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

AS Ancam Bom Bunker Iran Pakai Mata-Mata Luar Angkasa, Teheran Melawan: Uranium Ini Sakral!

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Bobby Wiratama
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Ringkasan Berita:

  • AS meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan ancaman serangan terhadap fasilitas uranium yang dipantau melalui sistem luar angkasa.
  • Trump menegaskan Washington tidak akan membiarkan Iran mengakses material nuklir yang diperkaya.
  • Iran menolak keras dan menyebut uranium sebagai hak sakral yang tidak bisa dipindahkan, di tengah negosiasi damai yang masih buntu.

 

TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman baru terkait program nuklir Teheran.

Trump menegaskan Washington tidak akan membiarkan Iran memperoleh ataupun memindahkan uranium yang diperkaya, bahkan jika harus menggunakan pengawasan militer berbasis luar angkasa untuk menyerang target di lapangan.

Dalam wawancara dengan program televisi Full Measure yang dikutip Al Jazeera, Trump mengatakan Amerika Serikat telah memantau secara intensif lokasi uranium Iran yang diyakini berada di bawah reruntuhan fasilitas nuklir yang sebelumnya dibombardir.

“Kami akan mendapatkannya kapan pun kami mau. Kami memantaunya sepanjang waktu,” kata Trump.

Presiden AS itu bahkan mengaitkan pengawasan tersebut dengan teknologi militer luar angkasa yang dikembangkan melalui Space Force, cabang militer Amerika Serikat yang fokus pada operasi antariksa.

“Jika seseorang mendekati lokasi itu, kami akan tahu siapa dia, di mana alamatnya, dan kami akan meledakkannya,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut langsung memicu respons keras dari Iran.

Pemerintah Teheran menegaskan bahwa uranium yang diperkaya merupakan bagian dari hak nasional yang tidak bisa disentuh pihak asing.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut uranium yang diperkaya “sama sakralnya dengan tanah Iran” dan tidak akan dipindahkan ke negara mana pun dalam kondisi apa pun.

Baca juga: Rusia Cari Celah di Tengah Perang AS-Iran, Mengapa Putin Menginginkan Uranium Iran?

Pernyataan Baghaei memperlihatkan bahwa isu uranium masih menjadi titik paling sensitif dalam negosiasi antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berminggu-minggu.

Menurut laporan The New York Times, Amerika Serikat ingin Iran menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya ke luar negeri sebagai bagian dari proposal perdamaian baru.

Namun Iran menolak syarat tersebut karena dianggap melanggar kedaulatan dan hak pengembangan energi nuklir domestik.

Uranium Jadi Jantung Konflik

Perselisihan soal uranium kini menjadi inti pertarungan diplomatik sekaligus militer antara kedua negara.

Iran diketahui memiliki lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya hingga tingkat kemurnian 60 persen.

Secara teknis, uranium pada tingkat tersebut belum dapat digunakan langsung sebagai senjata nuklir, tetapi sudah mendekati ambang pengayaan tingkat militer yang mencapai sekitar 90 persen.

Amerika Serikat dan sekutunya menilai jumlah tersebut cukup untuk menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan regional.

Sebaliknya, Iran terus membantah bahwa mereka berupaya membuat bom nuklir.

Teheran menegaskan program nuklir mereka bertujuan untuk kebutuhan energi dan penelitian sipil.

Konflik ini sebenarnya berakar dari runtuhnya kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015.

Dalam kesepakatan itu, Iran setuju membatasi pengayaan uranium hingga 3,67 persen sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi internasional.

Namun Trump menarik AS keluar dari JCPOA pada masa jabatan pertamanya dan kembali menjatuhkan sanksi berat terhadap Iran.

Langkah tersebut mendorong Iran meningkatkan kapasitas pengayaan uranium secara bertahap hingga melampaui batas perjanjian lama.

Pengawasan Luar Angkasa dan Ancaman Militer

Pernyataan Trump mengenai penggunaan Space Force menjadi perhatian besar karena memperlihatkan perubahan strategi pengawasan AS terhadap Iran.

Washington kini disebut mengandalkan satelit militer, intelijen orbital, hingga sistem pelacakan real-time untuk memonitor aktivitas di sekitar fasilitas nuklir Iran.

Baca juga: AS Tuntut Iran Serahkan 440 KG Uranium Aktif, Teheran Tegaskan Pengayaan Nuklir Tak Bisa Dinego

Laporan Fortune menyebut ancaman tersebut muncul ketika pembicaraan damai antara kedua negara masih berlangsung melalui mediator Pakistan.

Namun di saat yang sama, Trump juga menegaskan perang belum benar-benar selesai.

“Mereka memang sudah dikalahkan, tapi itu bukan berarti semuanya berakhir,” kata Trump.

Ia mengklaim AS masih memiliki sejumlah target strategis lain yang dapat dihancurkan jika Iran tidak mengikuti syarat Washington.

Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa gencatan senjata saat ini bisa runtuh sewaktu-waktu.

Hormuz dan Krisis Energi Dunia

Ketegangan Iran-AS juga berdampak langsung pada pasar energi global. Iran masih mempertahankan blokade di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui hampir 20 persen perdagangan minyak dunia.

Akibat gangguan distribusi minyak, harga bahan bakar di Amerika Serikat melonjak tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Trump mengakui harga bensin kini menembus lebih dari 4,50 dolar AS per galon, jauh lebih tinggi dibanding sebelum perang.

Meski begitu, Trump tetap menegaskan bahwa tekanan terhadap Iran akan terus dilakukan demi mencegah Teheran memperoleh kemampuan nuklir militer.

Baca juga: Misteri Keberadaan 11 Ton Uranium Iran yang Terkubur di Dalam Tanah

Di sisi lain, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran telah menyampaikan respons resmi terhadap proposal damai terbaru AS melalui mediator Pakistan.

Hingga kini belum ada tanda bahwa kedua pihak benar-benar mencapai titik kompromi.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini