Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan negaranya memainkan peran penting dalam menjaga keamanan jalur perdagangan internasional di kawasan itu.
“Inggris memainkan peran utama dalam mengamankan Selat Hormuz, dan kami menunjukkannya hari ini dengan peralatan canggih terbaru untuk melindungi kepentingan kami dan mengamankan selat tersebut,” kata Healey.
Ia menambahkan bahwa pengerahan jet Typhoon, HMS Dragon, dan sistem otonom terbaru merupakan bentuk komitmen Inggris untuk menjaga stabilitas perdagangan global dan mengurangi dampak konflik terhadap masyarakat internasional.
“Dengan sekutu-sekutu kami, misi multinasional ini akan bersifat defensif, independen, dan kredibel,” ujarnya.
Selain HMS Dragon, kapal RFA Lyme Bay juga sedang ditingkatkan agar mampu membawa sistem tanpa awak canggih dan berfungsi sebagai “kapal induk” bagi drone laut jika sewaktu-waktu dibutuhkan dalam operasi di Selat Hormuz.
Saat ini Inggris telah menempatkan lebih dari 1.000 personel militer di kawasan Timur Tengah, termasuk tim anti-drone dan skuadron jet tempur yang selama ini terlibat dalam pengamanan wilayah dan perlindungan terhadap sekutu-sekutunya.
Langkah Inggris dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.
Latar Belakang Perang AS-Israel Vs Iran
Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 setelah AS dan Israel menyerang sejumlah fasilitas penting milik Iran. Serangan itu terjadi dua hari setelah perundingan nuklir di Jenewa gagal mencapai kesepakatan.
AS dan Israel menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun Iran membantah dan mengatakan program nuklirnya hanya digunakan untuk energi dan penelitian.
Situasi semakin panas setelah serangan awal dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Posisi tersebut kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Iran lalu membalas dengan menyerang wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Selain itu, Teheran menghentikan pembicaraan nuklir dan memperketat jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dunia. Akibatnya, pasokan energi global terganggu dan harga minyak naik.
Setelah perang berlangsung sekitar 40 hari, kedua pihak menyepakati gencatan senjata sementara pada 8 April 2026. Meski begitu, ketegangan belum benar-benar mereda. Pakistan kemudian ikut menjadi mediator untuk membantu proses negosiasi damai antara Washington dan Teheran.
Keadaan kembali memanas ketika AS menjalankan operasi militer “Project Freedom” di Selat Hormuz. Operasi itu sempat dihentikan untuk memberi kesempatan pada jalur diplomasi, tetapi perundingan kembali gagal pada 10–11 Mei setelah Iran menolak proposal terbaru dari pemerintahan Donald Trump.
Saat ini AS sedang mempertimbangkan langkah militer baru, termasuk kemungkinan serangan udara tambahan dan pengaktifan kembali operasi di Selat Hormuz.
Salah satu masalah terbesar dalam negosiasi adalah tuntutan AS dan Israel agar cadangan uranium Iran dipindahkan ke luar negeri. Namun Iran menolak permintaan itu karena dianggap melanggar kedaulatan negaranya.
Hingga sekarang, kedua pihak masih sama-sama bertahan dengan proposal masing-masing, sehingga perundingan berjalan sulit dan belum menemukan titik kesepakatan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan