Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Lonjakan kasus super flu di Indonesia memicu kekhawatiran masyarakat mengingat gejala lebih berat dibanding flu biasa.
Sedikitnya ada 62 kasus super flu influenza A (H3N2) subclade K yang sudah terkonfirmasi di Indonesia dengan konsentrasi terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Dokter sekaligus epidemiolog Dicky Budiman mengatakan, dalam konteks Indonesia, super flu sejatinya sudah masuk kategori wabah musiman, bukan ancaman baru yang akan berkembang menjadi pandemi besar seperti COVID-19.
“Kalau menjadi wabah dalam konteks wabah musiman, sudah terjadi sebetulnya, sudah terjadi,” kata Dicky pada program Tribunnews On Focus di kanal YouTube Tribunnews, Selasa (6/12/2025).
Menurut Dicky, salah satu faktor penting yang menahan laju penyebaran super flu di Indonesia adalah struktur demografi penduduk yang didominasi usia muda dengan imunitas relatif baik.
Kelompok usia produktif ini berperan sebagai “peredam alami” penularan, sehingga lonjakan kasus tidak berkembang menjadi krisis kesehatan berskala luas.
Selain itu, tidak semua lansia otomatis mengalami kondisi berat.
Baca juga: Warga Jakarta yang Liburan ke Luar Negeri Diminta Waspada Super Flu H3N2
Hanya sebagian kecil yang berisiko mengalami komplikasi serius, terutama mereka dengan penyakit penyerta atau daya tahan tubuh yang lemah.
Perilaku lansia di Indonesia juga dinilai masih cukup protektif.
Kebiasaan menggunakan masker dan mobilitas yang lebih rendah dibandingkan lansia di negara maju turut membantu menekan potensi ledakan kasus.
Musim Hujan Tingkatkan Risiko, Tapi Bersifat Sementara
Meski relatif terkendali, Dicky mengingatkan bahwa musim hujan tetap menjadi faktor penting dalam peningkatan kasus super flu.
Curah hujan tinggi membuat aktivitas masyarakat lebih banyak dilakukan di ruang tertutup dan fasilitas publik yang padat. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi penularan virus pernapasan.
Namun, risiko tersebut bersifat musiman. Ketika intensitas hujan menurun dan aktivitas kembali lebih terbuka, potensi penyebaran pun cenderung ikut mereda.
Dengan kata lain, lonjakan kasus yang terjadi saat ini lebih mencerminkan pola tahunan, bukan sinyal krisis baru.
Baca tanpa iklan