News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Super Flu Akankah Jadi Pandemi Baru? Begini Kata Epidemiolog

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SUPER FLU - Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. dr. Cissy Rachiana Sudjana Prawira-Kartasasmita, Sp.A. (K) menyatakan anak-anak lebih rentan terserang penyakit karena daya tahan tubuh anak belum sempurna.

Di tengah kekhawatiran publik, muncul pula narasi yang menyebut super flu sebagai penyakit “rekayasa” demi kepentingan industri vaksin.

Pandangan ini ditegaskan Dicky sebagai teori konspirasi yang menyesatkan dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

“Ini sekali lagi teori konspirasi yang selain menyesatkan, tapi juga cenderung berbahaya,” ujarnya.

Menurut Dicky, narasi semacam ini justru dapat melemahkan upaya perlindungan terhadap kelompok rentan, terutama lansia, karena membuat masyarakat enggan melakukan vaksinasi influenza.

Padahal, vaksin influenza terbukti berperan penting dalam menurunkan risiko keparahan dan kematian akibat infeksi.

Lebih jauh, Dicky menekankan bahwa kemunculan berbagai penyakit infeksi dalam dua dekade terakhir tidak bisa dilepaskan dari kerusakan lingkungan.

Baca juga: Menkes: Influenza A Subclade K Sama Seperti Flu Biasa dan Tidak Mematikan

Perusakan hutan dan habitat satwa liar memicu perpindahan virus dari hewan ke manusia. Virus yang sebelumnya “terkunci” di alam liar akhirnya menemukan inang baru ketika ekosistem rusak.

Fenomena inilah yang menjelaskan kemunculan berbagai penyakit baru, dari influenza varian tertentu hingga COVID-19.

Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan One Health, yakni upaya terpadu menjaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan.

Pemerintah Diminta Perkuat Radar Kewaspadaan

Dalam menghadapi super flu, Dicky menilai langkah paling krusial dari pemerintah bukanlah menciptakan kepanikan, melainkan memperkuat sistem kewaspadaan dini.

Pemantauan kasus melalui sistem surveilans, baik influenza-like illness (ILI) maupun severe acute respiratory infection (SARI), menjadi kunci untuk membaca tren yang tidak biasa.

Dengan data yang konsisten dan merata hingga ke daerah rawan bencana, pemerintah dapat memastikan apakah lonjakan kasus masih dalam batas normal musiman atau sudah memasuki fase yang memerlukan intervensi khusus.

Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dibanding respons reaktif yang muncul setelah rumah sakit mulai kewalahan.

Super flu di Indonesia bukan ancaman baru yang mengarah pada pandemi, melainkan bagian dari siklus wabah musiman yang dipengaruhi usia penduduk, perilaku masyarakat, dan faktor cuaca.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama pada musim hujan dan di wilayah dengan kelompok rentan tinggi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini