Lalu, 50 persen anak usia sekolah penyandang disabilitas belum bisa mengenyam pendidikan yang layak.
Tidak hanya itu, lanjut Gus Ipul, sebanyak 24 persen penyandang disabilitas belum memiliki asuransi kesehatan.
“Sementara itu, kuota kerja untuk penyandang disabilitas sebesar 2 persen untuk instansi pemerintah dan 1 persen instansi swasta juga belum sepenuhnya terwujud,” jelas Gus Ipul.
Baca juga: Mensos Gus Ipul: Penyandang Disabilitas Bakal Masuk Data Tunggal Penerima Bansos
Peran Keluarga
Kementerian Sosial (Kemensos) bicara mengenai pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter kepemimpinan anak dengan disabilitas.
Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial (Kemensos), Fatma Saifullah Yusuf, menjelaskan ada banyak hal yang dapat dilakukan oleh keluarga untuk mengembangkan potensi anak-anak dengan disabilitas.
Menurutnya, keluarga menjadi lokus utama terjadinya rehabilitasi sosial serta pemulihan fungsi sosial anak-anak dengan disabilitas.
“Keluarga tidak sekadar memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan, mengantar berobat atau terapi, dan kebutuhan pokok semacam itu."
"Lebih dari itu, keluarga adalah lingkungan pertama yang berinteraksi dengan individu penyandang disabilitas sehingga menyediakan pondasi utama bagi perkembangan nilai-nilai, sikap, dan keterampilan mereka termasuk karakter pribadi yang positif," ujar Fatma saat memberikan keynote speech dalam diskusi bertajuk "Peran Keluarga dalam Membentuk Karakter Kepemimpinan Penyandang Disabilitas" di Jakarta, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Senin (2/12/2024).
Fatma menambahkan, dalam membentuk karakter kepemimpinan anak-anak dengan disabilitas, peran pertama yang dimainkan oleh keluarga ialah memberikan dukungan emosional dan psikologis.
"Sehingga penyandang disabilitas merasa percaya diri untuk mengambil lebih banyak peran di lingkungan sosial mereka," kata dia.
Peran keluarga yang kedua, dikatakan Fatma, yakni dapat menanamkan nilai-nilai kepemimpinan seperti kerja keras, tanggung jawab, empati, dan integritas.
"Keluarga juga dapat memberikan akses ke pendidikan dan pelatihan yang sesuai dengan bakat dan minat penyandang disabilitas, misalnya keterampilan public speaking," kata dia.
Kemudian, dia menilai keluarga dapat melatih dan mendorong kemandirian penyandang disabilitas dengan memberi peran dan tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan mereka.