Seorang peneliti di Pusat Studi Konflik dan Kemanusiaan di Doha, Qatar, Mouin Rabbani, mengatakan Israel benar-benar telah melewati garis merah dengan menyerang Rafah.
Presiden AS Joe Biden pernah mengatakan, ia menolak operasi militer di Rafah, karena konsekuensi korban sipilnya bisa sangat mengerikan. Ini garis merah ala Biden.
Tapi ini sangat menarik karena akan diuji apakah Washington benar-benar bisa mengendalikan Israel atau tidak.
Jawaban sementaranya, ternyata Gedung Putih pun tidak sanggup mengontrol Israel. Joe Biden dan elite Washington ternyata tidak memiliki garis merah itu.
Kemarahan elite Eropa atas insiden ini, seperti ditunjukkan Presiden Prancis Emmanuel Macron, juga tak banyak artinya.
Sikap mereka yang hipokrit, menjadikan setiap insiden kemanusiaan di Palestina tampak seperti kosmetik saja bagi mereka.
Tampak peduli dan manis terhadap penderitaan Palestina, tapi tetap mengalirkan dukungan politik, bahkan dana dan senjata untuk rezim Tel Aviv.
Ini persoalan mendasar bagi banyak pemimpin dan negara di Eropa, AS, dan juga kawasan lain dalam konteks konflik Israel-Palestina.
Dari sekian realitas global, Iran lah satu-satunya negara dan kekuatan di dunia yang menunjukkan perlawanan terbukanya terhadap Israel.
Baik langsung, seperti ditunjukkan saat Iran menggempur Israel menggunakan rudal balistik dan drone, atau tak langsung lewat elemen-elemen pro-Iran di Suriah, Irak, Lebanon, dan Yaman.
Turki, yang pemimpinnya gembar-gembor membela Palestina, tidak mampu melakukan seperti yang dikerjakan Iran.
Tayyip Erdogan tersandera ambivalensi Turki, yang menjaga hubungan diplomatiknya dengan Israel, tapi berusaha jadi pembela Palestina dari dunia Arab dan Asia.
Dalam pernyataanya, Tayyip Erdogan bersumpah Ankara akan melakukan segala daya untuk memastikan “orang barbar” yang melakukan serangan terhadap Rafah diadili.
Erdogan kembali membandingkan PM Benjamin Netanyahu dengan Adolf Hitler, mengklaim orang itu “meniru” diktator Nazi Jerman.