Sikap kolektif investor untuk wait and see atau keluar lebih cepat akhirnya menendang rupiah hingga menjebol dinding Rp17.000.
Ironisnya, hubungan ini tidak searah. Pelemahan rupiah yang berlarut-larut akan memukul balik APBN: setiap koreksi Rp100 per dolar AS akan membakar anggaran belanja berdenominasi valas sebesar Rp6,1 triliun.
Fiskal dan kurs kini terjebak dalam lingkaran setan yang saling menekan.
Kedua, ketidakpastian regulasi ekonomi.
Rencana ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia yang dijadwalkan meluncur September 2026 turut menyiram bensin ke dalam ketidakpastian.
Pasar menilai skema ini berisiko menciptakan distorsi besar.
Di dunia investasi yang mendewakan kepastian hukum, ketidakjelasan eksekusi—seperti siapa yang menanggung risiko transisi dan bagaimana nasib kontrak lama—langsung diterjemahkan sebagai diskon atas aset rupiah.
Peringatan dini dari lembaga rating seperti Moody's dan S&P kian memperparah kecemasan ini.
Baca juga: Bos Asuransi Astra Ungkap Sektor Paling Rentan Terdampak Suku Bunga Tinggi dan Melemahnya Rupiah
Menghentikan Krisis yang Menular Sendiri
Pertemuan antara kecemasan fiskal dan ketidakpastian regulasi ini menciptakan apa yang disebut ekonom Maurice Obstfeld sebagai self-fulfilling crisis (krisis yang mewujud karena ditakutkan).
Ekspektasi buruk yang diyakini bersama sudah cukup untuk menghancurkan pasar, bahkan sebelum fundamental ekonominya benar-benar rusak.
Rupiah dijual karena takut melemah, dan ketika melemah, itu dijadikan bukti bahwa ekonomi sedang rapuh, yang kemudian memicu gelombang penjualan baru.
Jika pelemahan ini murni karena hitungan matematika ekonomi, obatnya mudah: ketatkan moneter dan disiplinkan fiskal.
Namun, sentimen tidak tunduk pada rumus baku. Bank Indonesia bisa saja membakar miliaran dolar cadangan devisa untuk intervensi, tetapi selama narasi negatif menguasai benak pasar, amunisi itu akan habis sia-sia.
Karena akarnya adalah persepsi, pemerintah memiliki tiga pekerjaan rumah yang mendesak:
- Berikan Kepastian Peta Jalan Fiskal: Pasar tidak alergi pada kebijakan baru atau defisit yang melebar, asalkan ada cetak biru yang terukur. Kejelasan fiskal berarti membeberkan dari mana uang pembiayaan didapat, apa prioritas belanjanya, dan bagaimana mitigasi risiko transisi kelembagaan seperti kasus Danantara.
- Rombak Komunikasi Otoritas: Pernyataan normatif seperti "rupiah akan dijaga sesuai fundamental" sudah usang dan justru menyisakan ruang kosong yang digoreng spekulan. Otoritas moneter dan fiskal harus memberikan forward guidance (panduan masa depan) yang lebih eksplisit dan tegas.
- Kelola Narasi secara Agresif: Narasi tandingan (counter-narrative) berbasis data riil harus diamankan lebih cepat daripada rumor pasar. Publikasi arus valas harian dan realisasi belanja harus dioptimalkan agar penjelasan resmi pemerintah selalu tiba lebih dulu sebelum kepanikan massal mengambil alih.
Pada akhirnya, jatuhnya rupiah hari ini bukanlah cerita tentang runtuhnya kesehatan ekonomi kita, melainkan tentang krisis kepercayaan.
Kepercayaan pasar tidak bisa dibeli dengan satu kebijakan instan, melainkan dari konsistensi sinyal yang dikirimkan oleh otoritas.
Sentimen mungkin terdengar abstrak, namun dampaknya pada layar perdagangan—dan pada akhirnya pada isi dompet rakyat—sangatlah nyata.
Baca tanpa iklan