Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

UU Promosi Pengurangan Kerugian Makanan di Jepang Diimplementasikan Mulai 1 Oktober 2019

Kobayashi yang juga anggota dewan lingkungan hidup pusat Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mulai tahun 2018, serta anggota Badan Konsumen nasional

UU Promosi Pengurangan Kerugian Makanan di Jepang Diimplementasikan Mulai 1 Oktober 2019
Richard Susilo
Prof Tomio Kobayashi, pengajar fakultas bisnis Institut Teknologi Pendidikan Aichi dan juga anggota dewan lingkungan hidup pusat Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mulai tahun 2018, serta anggota Badan Konsumen nasional Jepang untuk divisi makanan sejak tahun 2019. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tanggal 1 Oktober 2019 UU Promosi Pengurangan Kerugian Makanan di Jepang mulai diimplementasikan ke masyarakat. Namun belum ada petunjuk pelaksanaan mengenai apakah akan kena denda bagi pelanggar serta denda seperti apa belum diketahui.

"Perundangannya memang baru mulai berlaku 1 Oktober mendatang, tetapi masih perlu pembahasan lebih lanjut mengenai formulasinya menjadi bagaimana nantinya serta perlu gerakan masyarakat untuk mendukung perundangan tersebut," kata Prof Tomio Kobayashi, pengajar fakultas bisnis Institut Teknologi Pendidikan Aichikhusus kepada Tribunnews.com siang ini (13/9/2019).

Kobayashi yang juga anggota dewan lingkungan hidup pusat Kementerian Lingkungan Hidup Jepang mulai tahun 2018, serta anggota Badan Konsumen nasional Jepang untuk divisi makanan sejak tahun 2019, berharap UU tersebut bisa diterima banyak pihak di masyarakat nantinya.

"UU tersebut berlaku bukan hanya bagi kalangan bisnis tetapi juga bagi semua anggota masyarakat di Jepang," tambahnya.

Urusan daur ulang makanan akan jauh lebih ketat lagi nantinya dan mengenai hukuman atau denda juga masih belum tahu karena perlu formulasi lebih lanjut dengan banyak pihak, tambahnya lagi.

Pengurangan kerugian makanan dibuat karena selama ini banyak terjadi makanan yang terbuang mubazir di berbagai tempat.

"Paling banyak di restoran saat pesta dalam satu tahun sekitar 800.000 ton makanan menjadi mubazir saat berpesta di Jepang," ungkapnya lagi.

Mengapa demikian? Karena orang Jepang banyak yang merasa malu kalau sampai kekurangan. Jadi lebih baik pesan lebih ketimbang kekurangan.

"Akibatnya banyak makanan mubazir jadi kebanyakan sekali yang harus terbuang jadinya. Olehkarena itu perlunya kita membawa doggy bad atau tas buat sisa makanan, membawa pulang makanan berlebih tersebut sehingga tidak jadi mubazir," harapnya lagi.

Kobayashi sendiri juga Ketua Komisi Doggy Bad di Jepang sejak tahun 2010 beruaha mensosialisasikan doggy bag ke seluruh jajaran masyarakat perlunya mengungkut semua sisa makanan berlebih pulang ke rumah agar tidak mubazir dengan tas tersebut.

"Olehkarena itu masyarakat dihimbau selalu membawa doggy bad di dalam tasnya karena tas tersebut bisa dilipat diringkas menjadi kecil dan dibuka lebar luas saat digunakan.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas