Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pengadilan Singapura Gunakan Aplikasi Zoom saat Jatuhkan Vonis Mati kepada Pengedar Narkoba

Seorang pria dijatuhi hukuman mati di Singapura lewat video call via Zoom.

Pengadilan Singapura Gunakan Aplikasi Zoom saat Jatuhkan Vonis Mati kepada Pengedar Narkoba
Catherine LAI / AFP
Orang-orang, yang memakai masker sebagai tindakan pencegahan terhadap coronavirus novel COVID-19, tiba di pos pemeriksaan Woodlands di Singapura pada 17 Maret 2020, dari seberang jalan lintas negara bagian selatan Malaysia, Johor. 

TRIBUNNEWS.COM - Seorang pria dijatuhi hukuman mati di Singapura lewat video call via Zoom.

Dia adalah Punithan Genasan yang bersalah karena terlibat dalam transaksi narkoba.

Warga negara Malaysia itu menerima hukuman karena terbukti bertransaksi heroin pada 2011 silam.

Sementara Singapura menjalankan aturan social distancing yang ketat, hukuman mati via Zoom ini jadi yang pertama terjadi di Negeri Singa.

"Demi keselamatan semua yang terlibat dalam persidangan, persidangan untuk Jaksa Penuntut Umum v Punithan A / L Genasan dilakukan melalui konferensi video," kata juru bicara pengadilan tertinggi Singapura dikutip dari Reuters via Guardian

Baca: Pria di Singapura Nekat Langgar Lockdown Demi Mencuri Pakaian Dalam

Baca: Muncul Ratusan Kasus Baru Covid-19 di Singapura

Arsitektur unik di Singapura yang banyak dikunjungi pemburu foto Instagramable
Arsitektur unik di Singapura yang banyak dikunjungi pemburu foto Instagramable (Instagram @pakerferris dan @brookehopdu)

Juru bicara pengadilan mengutip pembatasan sosial yang dilakukan negara demi memutus rantai penyebaran Covid-19 di sana.

Dia menambahkan bahwa ini menjadi kasus kriminal pertama yang mendapat hukuman mati melalui sidang jarak jauh.

Sementara itu, pengacara Genasan, Peter Fernando mengatakan kliennya menerima putusan hakim via panggilan Zoom.

Kini pihaknya sedang mempertimbangkan untuk mengajukan banding.

Kendati demikian sejumlah kelompok HAM menilai putusan via video call tidak etis untuk memberikan putusan dalam kasus kriminal besar.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas