Analis Sebut Kudeta Myanmar karena Ambisi Pribadi Panglima Militer yang Merasa Hilang Rasa Hormat
Sudah sepekan Myanmar di bawah kekuasaan langsung militer pasca kudeta pada Senin (1/2/2021).
Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Sri Juliati
Min Aung Hlaing diketahui akan pensiun pada Juni nanti, tepat saat usianya 65 tahun.
Sehingga ahli menilai, mungkin Jenderal ini mengincar posisi presiden.
Sayangnya pada pemilu November 2020 Suu Kyi menang dengan 83 persen suara, menandakan penolakan kuat terhadap militer.
Latar Belakang Militer Myanmar atau Tatmadaw
Militer Myanmar atau dikenal sebagai Tatmadaw diketahui tidak pernah benar-benar menyerahkan kekuasaan politiknya.
Lebih dari satu dekade yang lalu, para panglima militer membuat rencana untuk mengadakan pemilu, meliberalisasi ekonomi, dan transisi ke semi-demokrasi sambil tetap mempertahankan otoritas mereka.
Di bawah Konstitusi 2008, militer otomatis mendapat seperempat kursi di Parlemen.
Militer juga bisa memberikan hak veto atas amandemen konstitusi dan para jenderal berhak memegang kendali tiga kementerian utama yakni pertahanan, perbatasan, dan urusan dalam negeri.
Selama 50 tahun, militer adalah institusi paling kuat di Myanmar.
Tentara memiliki kendali atas pemerintahan, ekonomi, dan setiap aspek kehidupan.
Namun militer menyebabkan konflik ras dengan etnis minoritas Rohingya hingga menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi.
Badan HAM Internasional sudah lama mengendus kekejaman tentara Myanmar kepada kelompok etnis ini, seperti pemerkosaan, penyiksaan, dan kejahatan perang lainnya.
Serangkaian diktator militer yang kejam mengubah Myanmar menjadi negara pariah.
Jenderal Ne Win, yang merebut kekuasaan dalam kudeta 1962, menjerumuskan negara ke dalam kemiskinan dengan kebijakan ekonomi dan sosialisnya.