Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Veteran Pencari Osama Pimpin Satgas CIA Menyelidiki “Sindrom Havana” pada Mata-mata dan Diplomat

CIA tunjuk veteran pencari Osama bin Laden memimpin satgas menyelidiki "Sindrom Havana" yang menyerang kalangan mata-mata dan diplomat AS

Veteran Pencari Osama Pimpin Satgas CIA Menyelidiki “Sindrom Havana” pada Mata-mata dan Diplomat
THINKSTOCKPHOTOS
Ilustrasi. 

Memo itu, seperti disebutkan Reuters, mengatakan intelijen mengindikasikan bahwa senjata semacam itu "dirancang untuk memenuhi tempat tinggal target dalam gelombang mikro, menyebabkan banyak efek fisik, termasuk sistem saraf yang rusak".

Baca juga: Jepang Kecam Serangan Siber Berbagai Kelompok yang Didukung Pemerintah China

Sindrom Havana

Dikutip dari Wall Street Journal, Sindrom Havana adalah serangkaian gejala medis yang tidak dapat dijelaskan yang pertama kali dialami oleh personel Departemen Luar Negeri AS yang ditempatkan di Kuba mulai akhir 2016.

Pada saat itu, para diplomat tersebut telah dikirim ke Kuba sebagai bagian dari pemulihan hubungan antara kedua negara yang dimulai di bawah Presiden Barack Obama, setelah puluhan tahun putus hubungan diplomatik antara kedua negara. Munculnya penyakit di tanah Kuba ini membuat hubungan menjadi tegang.

Sejak kasus awal, diplomat dan petugas intelijen yang ditempatkan di seluruh dunia telah mengalami gejala serupa.

Mereka yang terkena dampak melaporkan berbagai kondisi termasuk pusing, sakit kepala, kelelahan, mual, kecemasan, kesulitan kognitif dan kehilangan memori dari berbagai tingkat keparahan.

Dalam beberapa kasus, diplomat dan petugas intelijen telah meninggalkan dinas aktif karena komplikasi dari kondisi tersebut.

Baca juga: Instansi Pemerintah di Sejumlah Negara Termasuk Indonesia Jadi Target Serangan Siber

Kasus pertama muncul di personel AS dan Kanada yang ditempatkan di Kuba pada akhir 2016.

Departemen Luar Negeri juga melaporkan kasus potensial di China pada 2018, mengevakuasi karyawan Departemen Luar Negeri dan keluarga mereka dari kota Guangzhou setelah kasus dilaporkan di sana, sebut WSJ.

Para diplomat dan personel intelijen di Rusia, Polandia, Georgia, dan Taiwan juga dilaporkan terkena dampaknya.

Halaman
123
Editor: hasanah samhudi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas