Tribun

Panitia Pemilu Jepang Tak akan Umumkan Jenis Kelamin Calon Anggota Parlemen

Para kandidat dapat mengirim informasi secara online, dan subjek transmisi bergeser dari panitia penyelenggara pemilu ke pihak kandidat.

Editor: Dewi Agustina
Panitia Pemilu Jepang Tak akan Umumkan Jenis Kelamin Calon Anggota Parlemen
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Poster pemilu berbagai calon mulai ditempel di berbagai tempat termasuk di dinding sebuah toko di Tokyo, Sabtu (16/10/2021). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Panitia pemilihan umum (pemilu) Jepang telah menghapus jenis kelamin setiap calon anggota parlemen di daftar dan buletin. Hal ini dilakukan untuk menghindari masalah privasi terutama terkait LGBT (Lesbian Gay Biseksual Transgender).

KPU dari 47 prefektur mengungkapkan bahwa mereka tidak akan mempublikasikan jenis kelamin calon parlemen di buletin.

Sebelumnya atau empat tahun lalu, sekitar setengah dari panitia penyelenggara pemilu telah menerbitkan jenis kelamin kandidat di buletin.

"Sebagai tren di dunia, kita menjadi lebih sensitif terhadap perlindungan informasi pribadi, dan Komite Administrasi Pemilihan proaktif dalam memberikan informasi seperti gender walaupun itu calon," ungkap Associate Professor Kazunori Kawamura dari Sekolah Pascasarjana Universitas Tohoku, yang akrab dengan sistem pemilihan di Jepang.

Menurutnya hal ini tidak perlu disosialisasikan di universitas.

"Masuk akal karena memudahkan kaum LGBT untuk mencalonkan diri ke dalam sistem pemilu kali ini," tambahnya.

Para kandidat dapat mengirim informasi secara online, dan subjek transmisi bergeser dari panitia penyelenggara pemilu ke pihak kandidat.

Pemilih juga menyadari bahwa waktu berubah dan menentukan tujuan pemungutan suara.

Baca juga: PM Jepang Persembahkan Masakaki ke Kuil Yasukuni di Tokyo Jepang

"Kita perlu melakukan itu," kata dia.

Dalam pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat terakhir, Kazuhiro Okabe, ketua Komisi Pemilihan Hokkaido--yang menerbitkan gender dalam buletin--, mengatakan untuk menciptakan lingkungan yang semudah mungkin dijalankan, dengan mempertimbangkan perlindungan privasi dan pertimbangan bagi transgender.

Dengan pemikiran itu, dapat membuat perubahan ini.

"Jika ada orang yang menahan diri untuk mencalonkan diri dengan menyebutkan jenis kelaminnya, saya harap mereka akan mempertimbangkan untuk berpartisipasi dalam politik, sehingga jumlah calon bisa bertambah banyak," tambahnya.

Sementara itu beasiswa (ke Jepang), belajar gratis di sekolah bahasa Jepang di Jepang, serta upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif melalui aplikasi zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas