Soal Sanksi Migas, Rusia Tak Gentar: Kita Memiliki Pasar Pemasok
Pemerintah Rusia terlihat santai menanggapi sanksi migas yang diberlakukan terhadap pihaknya. Mereka menyatakan memiliki pembeli yang cukup.
Penulis: Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
Untuk menangani sanksi yang didapatkan Rusia, pihaknya saat ini mengirim migas ke China melalui pipa gas milik Power of Siberia.
Selain itu, Rusia juga menjalin kerjasama jangka panjang dengan negara-negara Asia lain terkait migas yang mana akan dikirim melalui Mongolia.
Saat ini, infrastruktur pipa gas milik Rusia tidak mampu untuk mengubah arah pengirimannya.
Namun, apabila kerjasama disetujui, maka pipa gas Rusia dapat terkoneksi dengan lebih banyak negara lain sekaligus mengurangi ketergantungan Rusia kepada Eropa untuk membeli migas miliknya.
Sanksi AS: Larang Impor Migas dari AS
Diberitakan Tribunnews sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden mengumumkan akan menghentikan impor sumber daya alam (SDA) dari Rusia pada Selasa (8/3/2022).
Adapun beberapa SDA yang akan disetop untuk diimpor dari Rusia antara lain minyak mentah, liquefied natural gas (LNG), dan batu bara.
Keputusan ini berdasarkan konsultasi dengan sekutu AS di Eropa yang mana lebih bergantung terhadap impor energi dari Rusia.
Baca juga: Ukraina Tuding Putin Lakukan Terorisme Nuklir, Rusia: Pentagon Danai Senjata Biologis di Ukraina
Gedung Putih mengumumkan pada Selasa kemarin bahwa Biden akan mengumumkan tindakan lanjutan untuk ‘menyerang’ keuangan Rusia akibat invasi yang dilakukannya terhadap Ukraina.
Namun terkait tindakan lanjutan ini, Biden belum memberikan rincian yang bakal dilakukan.
Hanya saja di sisi lain, harga minyak mentah naik 4 persen menjadi 124 dolar AS pada Selasa kemarin.
Sehingga membuat keputusan untuk menghentikan impor minyak membantu mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi sejak tahun 2008.
Kemudian terkait keputusan ini, Kongres AS menginginkan percepatan agar Pemerintah AS segera melakukan tindakan tersebut pada minggu ini.
Hal ini membuat Biden juga harus bertindak lebih cepat lagi.