Mantan Menteri Austria: Tak Semua Negara Uni Eropa Ingin Bergabung dengan Sanksi terhadap Rusia
Mantan Menlu Austria Karin Kneissl menyebut negaranya mendukung sanksi anti-Rusia, tetapi menurutnya tidak smeua negara Uni Eropa ingin berpartisipasi
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Miftah
TRIBUNNEWS.COM - Mantan Menteri Luar Negeri Austria Karin Kneissl mengatakan negaranya terus mendukung semua sanksi anti-Rusia karena situasi di Ukraina.
Tapi Kneissl dalam sebuah wawancara dengan TASS menegaskan tidak semua negara Uni Eropa (UE) ingin berpartisipasi dalam pembatasan ini.
Kneissl pun meminta perhatian pada fakta bahwa beberapa negara Uni Eropa, seperti Hongaria, "menawarkan" pembebasan untuk diri mereka sendiri dalam paket keenam sanksi terhadap Rusia, yang berdampak pada pasokan energi.
"Jelas bahwa tidak semua orang ingin mengambil bagian dalam semua sanksi. Namun, Austria sejauh ini terus mengikuti semua pembatasan," tambah Kneissl.
Menurutnya, Wina membuat keputusan sanksi sesuai dengan kebijakan luar negeri dan pertahanan bersama Uni Eropa.
"Kami sudah melalui ini pada tahun 2014, seperti yang dilakukan negara-negara lain, dengan sanksi terhadap China dan, tentu saja, lebih dari seribu hukuman terhadap Rusia," jelasnya.
Baca juga: Balas Sanksi AS, Vladimir Putin Larang Militer Washington Lakukan Inspeksi Pada Senjata Nuklir Rusia
"Semua hukuman ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, tidak hanya di Eropa," tambah mantan menteri itu.
Update perang Rusia Vs Ukraina
Berikut selengkapnya rangkuman peristiwa yang terjadi di hari ke-201 invasi Rusia di Ukraina, seperti dikutip dari The Guardian:
Rusia serang infrastruktur di Ukraina
Rusia menargetkan fasilitas infrastruktur di Ukraina tengah dan timur pada Minggu (11/9/2022) malam.
Serangan itu sebagai tanggapan atas serangan balasan dramatis Ukraina di provinsi Kharkiv.
Wali Kota kota Kharkiv Ihor Terekhov mengatakan serangan telah mematikan listrik dan air di sebagian besar kota.
Dia menggambarkan situasi di kota itu sebagai tindakan "balas dendam" oleh Rusia untuk keberhasilan Ukraina di medan perang baru-baru ini.
Baca juga: Rusia Terbukti Kebal Sanksi, Ekspor Energi Raup Untung 158 Miliar Dolar AS Selama Invasi
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.