Indonesia Diminta Tetap Netral Sikapi Memanasnya Eskalasi Konflik China Vs Jepang
Perairan Asia Timur kini memanas seiring dengan meningkatnya tensi politik antara China dan Jepang.
Penulis:
Choirul Arifin
Editor:
Hasanudin Aco
Ketua FSI Johanes Herlijanto dalam keterangannya di akhir diskusi panel di atas juga memberi penjelasan mengapa China merespons pernyataan Perdana Menteri Jepang dengan sangat keras.
“Pertama, isu Taiwan merupakan isu sensitif bagi Beijing karena berkaitan erat dengan legitimasi Partai Komunis China (PKC), upaya China mengambil kembali apa yang mereka anggap sebagai ‘teritorial yang hilang’ (lost territories), serta pengakuan dari negara lain terhadap apa yang China anggap sebagai kedaulatannya,” kata dia.
Namun menurut pria yang mengajar pada Program Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH) itu, alasan kedua mengapa China begitu agresif adalah karena Jepang merupakan sosok yang dikonstruksi oleh China sebagai sosok antagonis melalui narasi sejarah dan budaya populer di China.
Selain itu, menurutnya, situasi internal China juga memainkan peran penting di balik sikap keras China.
“Kondisi dalam negeri China tidak sedang dalam keadaan terbaik. Selain situasi ekonomi yang sempat mengalami perlambatan, dalam beberapa tahun terakhir terdapat pula peristiwa yang berpotensi mempengaruhi situasi politik, seperti pemecatan beberapa pejabat tinggi militer maupun sipil,” tegas Johanes.
Oleh karenanya, ia menduga Beijing merasa penting untuk menggalang dukungan nasionalisme dari rakyatnya.
“Eskalasi ketegangan dengan Jepang dapat menjadi bahan bakar bagi penggalangan nasionalisme semacam itu,” katanya.
Johanes juga mendukung sikap netralitas serta strategi bebas dan aktif yang diterapkan oleh Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo.
“China dulu dikenal sebagai negara yang menekankan kerendahan hati (low profile), tetapi sejak kepemimpinan Presiden Xi Jinping, China berubah menjadi lebih asertif, bahkan cenderung agresif. Apa yang akan terjadi bila China menjadi semakin dominan tanpa adanya kekuatan penyeimbang?" kata Johanes.
Pandangan menarik juga diungkapkan oleh Profesor Anak Agung Banyu Perwita. Ia menuturkan pentingnya memahami sudut pandang China dalam upaya memperoleh gambaran menyeluruh tentang postur geopolitik di Asia Timur dan Asia Tenggara saat ini.
Bagi akademisi yang akrab disebut sebagai Prof Banyu ini, China tahu persis bahwa ASEAN tidak bersatu. Selain itu, China juga dinilai memiliki kepentingan terhadap keamanan di Selat Malaka.
Yang juga menarik, Prof Banyu berpandangan bahwa sangat mungkin China sedang mengeksploitasi sikap netralitas dari negara-negara Asia Tenggara.
“Sikap tidak condong ke Amerika Serikat atau pun ke Beijing, tetapi bisa sedikit miring ke China, nampaknya merupakan sikap yang diinginkan China,” tuturnya.
Meski demikian, Prof Banyu juga mendukung sikap netralitas Indonesia dalam menanggapi ketegangan yang sedang berlangsung. Pada sisi lain, ia menekankan pentingnya Indonesia untuk mengedepankan nasionalisme ekonomi secara selektif, termasuk berupaya membangun kemandirian ekonomi (self-sufficiency) secara selektif.
Baca tanpa iklan