Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Kuliner Bipang Ambawang

Jubir Presiden, Mendag, Ngabalin Hingga Politisi 'Bela' Jokowi Soal Polemik Kuliner Bipang Ambawang

Lutfi mengatakan bahwa tidak ada maksud apapun dari pernyataan Presiden Jokowi yang mempromosikan sejumlah kuliner nusantara termasuk Bipang Ambawang.

Jubir Presiden, Mendag, Ngabalin Hingga Politisi 'Bela' Jokowi Soal Polemik Kuliner Bipang Ambawang
Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Juru Bicara Kepresidenan - Fadjroel Rachman 

"Mulai dari benci produk asing sampai bipang ambawang yang viral di seluruh Indonesia, dan sampai jadi perbincangan di kalangan tokoh-tokoh agama di desa-desa di dapil saya," ujar Mufti yang berasal dari daerah pemilihan Pasuruan-Probolinggo ini.

Menurut Mufti, kinerja Mendag Lutfi “diuntungkan” dengan situasi pandemi di mana daya beli rakyat sedang tidak prima, sehingga membuat fluktuasi harga relatif terkendali saat bulan Ramadan dan jelang Lebaran.

Tercatat hanya daging sapi yang kini harganya relatif berfluktuasi.

"Tapi ingat, stabilitas harga bahan pokok saat ini bukan karena kinerja Mendag, tapi memang daya beli sedang susut," pungkas Mufti.

Baca juga: Bukan Hanya Bipang Ambawang yang Heboh Itu, Ketahui 5 Kuliner Khas Kalimantan Barat Lainnya

Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad juga ikut berkomentar.

Menurutnya, warga tak berburuk sangka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang mempromosikan kuliner bipang ambawang, khas Kalimantan Barat.

Pasalnya, warga menilai bahwa bipang yang dimaksud Jokowi yakni Babi Panggang, Sehingga tidak tepat apabila diidentikkan dengan kuliner lebaran.

"Soal polemik penyebutan bipang ambawang, jauhkan dulu dari buruk sangka kepada Presiden Jokowi," kata Dasco.

Wakil Ketua DPR itu berpendapat, dalam video bipang ambawang, posisi Presiden Jokowi hanyalah sebagai bintang iklan. Dia menduga Jokowi hanya mengikuti narasi pihak yang membuat iklan tersebut.

"Dalam video iklan kementerian Perdagangan tersebut, Presiden merupakan bintang iklannya. Jadi saya menduga presiden hanya mengikuti narasi yang sudah dibuat oleh pihak pembuat iklan tersebut," ujarnya.

Oleh karena itu, Dasco menyarankan agar Kementerian Perdagangan segera mendalami terkait video bipang ambawang tersebut. Dasco juga meminta agar ada evaluasi proses pembuatan video pidato yang diduga iklan tersebut.

"Saya berharap Kemendag segera mendalami dan mengevaluasi proses pembuatan iklan tersebut," kata dia.

Pendapat berbeda justru dilontarkan Anggota Komisi VI DPR Herman Khaeron yang merasa heran dengan sikap Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang meminta maaf atas ucapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal Bipang Ambawang.

"Saya tidak mengerti kok Lutfi yang meminta maaf, semestinya Presiden atau diwakilkan ke Menteri Sekretaris Negara (meminta maaf)," ujar Herman.

Menurutnya, pernyataan maaf yang disampaikan pihak Istana seperti Mensesneg sudah cukup mewakili Presiden yang kurang tepat menyampaikan ajakan membeli Bipang Ambawang saat Lebaran.

"Dengan pernyataan pihak Istana sudah mewakili. Namun, memang saya juga banyak tafsir dengan tampilnya Lutfi yang minta maaf, salah satunya mungkin saja ini programnya Mendag," tutur politukus partai Demokrat itu.

Terkait ajakan membeli bipang ambawang, kata Herman, kemungkinan Presiden Jokowi hanya membaca teks yang telah disediakan oleh tim Kepresidenan.

"Ini harus teliti betul sebelum itu disampaikan oleh presiden. Pernyataan presiden tidak tepat karena momentumnya menyebut Bipang Ambawang atau babi panggang di tengah larangan mudik lebaran karena konteksnya hari besar agama Islam," paparnya. (Tribun Network/fik/nur/sen/zul/wly)

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas