Tribun Otomotif

Krisis Rantai Pasokan, Mazda Pertimbangkan untuk Hentikan Produksi Kendaraannya di Rusia

Pihak Mazda mengatakan pada Maret lalu bahwa ekspor suku cadang ke pabrik akan berakhir dan produksi akan berhenti ketika stok habis.

Penulis: Mikael Dafit Adi Prasetyo
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Krisis Rantai Pasokan, Mazda Pertimbangkan untuk Hentikan Produksi Kendaraannya di Rusia
Foto NHK
Pabrik Mazda di Hiroshima. Mazda Motor sedang mempertimbangkan untuk menghentikan produksi kendaraannya di pabrik Vladivostok, Rusia. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Mazda Motor, produsen mobil yang berbasis di Jepang, sedang mempertimbangkan untuk menghentikan produksi kendaraannya di pabrik Vladivostok, Rusia.

Dikutip dari Reuters, Minggu (25/9/2022) produsen mobil itu mengatakan pada Maret lalu bahwa ekspor suku cadang ke pabrik akan berakhir dan produksi akan berhenti ketika stok habis.

“Mazda belum membuat keputusan untuk mengakhiri penjualan mobil dan operasi pemeliharaan di Rusia,” kata surat kabar Nikkei, seraya menambahkan, tidak ada jangka waktu untuk menghentikan produksi di pabrik Vladivostok.

Baca juga: Mazda Catat 852 Pemesanan Mobil Sepanjang GIIAS 2022, CX-5 Mendominasi

Toyota dan Beberapa Perusahaan Lain Tangguhkan Operasional di Rusia

Sementara itu, produsen mobil asal Jepang lainnya yakni Toyota Motor Corp mengatakan bahwa pihaknya telah memutuskan untuk mengakhiri produksi kendaraan di Rusia, karena gangguan pasokan bahan dan suku cadang utama.

Toyota telah menangguhkan produksi di St Petersburg pada Maret karena masalah rantai pasokan, dan berhenti mengimpor kendaraannya ke Rusia.

"Selama periode ini kami telah sepenuhnya mempertahankan tenaga kerja kami dan memastikan fasilitas kami siap untuk memulai kembali produksi jika keadaan memungkinkan," kata Toyota dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Roadster Paling Menawan Mazda MX-5 Mejeng di GIIAS 2022 

"Namun, setelah enam bulan, kami belum dapat melanjutkan aktivitas normal dan tidak melihat indikasi bahwa kami dapat memulai kembali di masa mendatang," imbuhnya.

Toyota mengatakan operasinya di Moskow perlu direstrukturisasi, tetapi akan terus mendukung jaringan ritelnya dalam memberikan layanan kepada pelanggan Toyota dan Lexus yang sudah ada.

Banyak pabrik di Rusia telah menangguhkan produksi dan pekerja yang dirumahkan, karena kekurangan peralatan berteknologi tinggi menyusul sanksi dan eksodus pabrikan Barat sejak Moskow melancarkan invasinya ke Ukraina pada 24 Februari.

Di samping itu, produsen mobil mewah seperti Jaguar telah berhenti mengekspor kendaraannya ke Rusia, sementara Ford dan BMW telah menangguhkan beberapa produksi.

Kemudian, pembuat ban Michelin dan Nokian juga berencana untuk keluar dari Rusia. Michelin mengatakan bahwa masalah rantai pasokan terkait sanksi membuatnya tidak mungkin lagi melanjutkan bisnis di Rusia.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas