Tribun

Ancaman Bom di Rumah Risma

Sehari Pascaancaman Bom, Begini Pengamanan di Balai Kota Surabaya

Pascaancaman bom di Balai Kota dan Pemerintah Kota Surabaya, petugas meningkatkan keamanan dengan mengaktifkan pendeteksi logam.

Editor: Y Gustaman
Sehari Pascaancaman Bom, Begini Pengamanan di Balai Kota Surabaya
Surya/Rorry Nurwawati
Petugas memeriksa pengunjung yang bertamu ke Balai Kota Surabaya, Kamis (20/10/2016), menggunakan pendeteksi logam. Pengamanan Balai Kota Surabaya dan rumah dinas Wali Kota Surabaya diperketat pascaancaman teror bom melalui telepon pada Rabu (19/20/2016). SURYA/RORRY NURWAWATI 

Laporan Wartawan Surya, Rorry Nurwawati 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pascaancaman bom di Balai Kota dan Pemerintah Kota Surabaya, petugas meningkatkan keamanan dengan mengaktifkan pendeteksi logam.

Alat ini diletakkan di dua lokasi di Balai Kota Surabaya, satu di pintu masuk Kantor Pemkot Surabaya dan satu lagi di rumah dinas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Sistem keamanan pun diperketat sejak ancaman bom di mana penelepon mendesak Risma membuka kembali lokasi Dolly yang sudah ditutup beberapa tahun lalu.

Pemasangan alat ini tidak hanya untuk para tamu. Semua pegawai Pemkot Surabaya wajib menjalani pemeriksaan. Petugas dari Linmas Surabaya akan memeriksa semua barang yang dibawa.

Sedangkan di rumah kediaman Wali Kota Surabaya nampak lebih ketat. Pagar rumah dinas yang biasanya terbuka kali ini tertutup.

Petugas tampak sangat selektif menerima tamu, termasuk wartawan. Tapi suasana di rumah dinas tampak lengang karena tak ada kegiatan. Penjagaan lebih ketat dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Kepala Bakesbangpol Linmas Kota Surabaya Sumarno mengatakan peningkatan keamanan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Terlebih, ancaman bom di Kantor Balai Kota pada Rabu (20/10/2016) malam. Pemkot Surabaya lebih meningkatkan keamanan menggunakan pendeteksi logam.

"Selain personel, juga ada alat bantu berupa metal detector. Untuk personel ada 30 anggota yang berjaga. Di rumah dinas wali kota misalnya, biasanya lokasi yang termasuk objek vital ini dijaga empat petugas linmas. Sekarang dijaga 12 orang petugas," kata Sumarno.

Hasil dari pemeriksaan polisi kemarin, lanjut Sumarno, tidak ditemukan benda-benda mencurigakan pascaancaman teror bom di Kantor Bali Kota Surabaya.

Sumarno akan memaksimalkan pelatihan petugas dalam mengoperasikan alat metal detector. "Karena pengoperasian alat ini tidak mudah. Tidak seperti menyalakan senter," jelas Sumarno.

Tidak hanya Linmas, pelatihan pengoperasian alat metal detector juga akan diterapkan untuk anggota Satpol PP dan Pamdal. Meski belum selesai, petugas yang sudah dilatih langsung dikerahkan.

"Sudah seharusnya bisa dilakukan oleh Linmas, Satpol dan Pamdal. Ketika ada ancaman serupa kita bisa langsung mengatasinya seperti apa dan tentunya kita juga bekerjasama dengan kepolisian," imbuh dia.

Sumber: Surya
Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas