Tribun Sport

Grand Desain Olahraga Nasional, Jangan Cuma Bulutangkis-Angkat Besi Jadi Tumpuan Medali

Diketahui, dari sekian banyak cabang olahraga, selama ini hanya bulutangkis dan angkat besi menjadi tumpuan menyabet medali.

Penulis: Lusius Genik Ndau Lendong
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
zoom-in Grand Desain Olahraga Nasional, Jangan Cuma Bulutangkis-Angkat Besi Jadi Tumpuan Medali
Abdul Majid/Tribunnews.com
Menpora Zainudin Amali saat menyambut kehadiran Greysia Polii dkk. di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Kamis (5/8/2021) dini hari. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Lusius Genik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainuddin Amali ingin menjadikan gelaran olimpiade, ajang olahraga empat tahunan terkemuka di dunia, sebagai target utama untuk dimenangkan oleh para atlet Indonesia. 

Target tersebut akan direalisasikan Zainuddin melalui Grand Desain Olahraga Nasional yang kini sedang digodok Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

"Kita sudah persiapkan desain besar olahraga nasional, di mana kita tempatkan olimpiade-olimpiade jadi sasaran utama (kemenangan)," ucap Zainuddin saat konferensi pers virtual, Kamis (5/8/2021).

Baca juga: Ibarat Bikin Pabrik, Ini Rencana Pemerintah Cetak Atlet Nasional Berprestasi

Atlet Indonesia Apriyani Rahayu (kanan) dan Greysia Polii berpose dengan medali emas bulu tangkis ganda putri pada upacara selama Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza di Tokyo pada 2 Agustus 2021.
Atlet Indonesia Apriyani Rahayu (kanan) dan Greysia Polii berpose dengan medali emas bulu tangkis ganda putri pada upacara selama Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza di Tokyo pada 2 Agustus 2021. (Alexander NEMENOV / AFP)

Baca juga: Digebuk Greysia/Apriyani di Final, Ganda China Dilaporkan ke BWF Karena Ucapkan Kata-kata Kotor

Selama ini, kata Zainuddin, Kemenpora menempatkan gelaran olimpiade setara dengan ajang-ajang olahraga lain seperti SEA Games maupun Asian Games

Alhasil perolehan medali Indonesia di tiap ajang olimpiade terbilang sangat sedikit. 

"Selama ini kan' olimpiade (ditempatkan) sama seperti ajang SEA Games, Asian Games. Maka dalam desain besan olahraga nasional, kita tempatkan olimpiade sebagai tujuan utama (kemenangan)," ujar Zainuddin. 

Baca juga: Pemain Kelas Dunia, Peforma Jonatan Christie di Olimpiade Bikin Joko Suprianto Bingung

Peraih medali perak Indonesia Eko Yuli Irawan berdiri di podium untuk upacara kemenangan kompetisi angkat besi 61kg putra selama Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum di Tokyo pada 25 Juli 2021.
Peraih medali perak Indonesia Eko Yuli Irawan berdiri di podium untuk upacara kemenangan kompetisi angkat besi 61kg putra selama Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum di Tokyo pada 25 Juli 2021. (Vincenzo PINTO / AFP)

Baca juga: Hendra Setiawan Pamit dari Olimpiade, Pebulutangkis Singapura: Jangan Tipu Lo

Alasan lain olimpiade dijadikan target utama untuk dimenangkan yakni keinginan Kemenpora untuk memperluas cabang olahraga (cabor) yang bisa menyumbang prestasi. 

Zainuddin mengatakan, tidak bisa lagi Indonesia hanya mengandalkan cabang-cabang olahraga andalan. 

Diketahui, dari sekian banyak cabang olahraga, selama ini hanya bulutangkis dan angkat besi menjadi tumpuan menyabet medali.

"Kita ingin memperluas basis cabor yang menyumbangkan prestasi. Kalau kita cuma cabor andalan sebagai ukuran medali, bisa jadi dari olimpiade ke olimpiade hanya satu atau dua cabor yang konsisten," ujar dia.

Baca juga: Cerita di Balik Kiprah Atlet di Olimpiade, Istri Hendra Setiawan Menangis Saat Lalui Ini Sendirian

Perjuangan Lifter Angkat Besi Wanita Windy Cantika Aisah (19) yang menghasilkan medali perunggu
Perjuangan Lifter Angkat Besi Wanita Windy Cantika Aisah (19) yang menghasilkan medali perunggu (Richard Susilo)

Baca juga: Legenda Bulutangkis Joko Suprianto Soroti Peforma Jonatan Christie di Olimpiade, Ada Apa Jojo?

Kemenangan di tiap cabor dalam gelaran olimpiade harus diperoleh dengan perencanaan yang baik. 

Atas dasar itu, Menpora Zainuddin berharap agar Grand Desain Olahraga Nasional bisa segera diterapkan dan diberi payung hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres).

"Cara berpikir, paradigma kita, kita ubah di dalam grand desain nasional. Artinya kita tidak boleh lagi bertumpu pada satu dua cabor. Prestasi kita sekarang harus by desian, bukan by accident," kata dia.

berita POPULER
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas