Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Sidang MK: Pandawa Vs Kurawa!
Dari “wow” menjadi “wew”, dari yang dijanjikan akan mencengangkan, ternyata justru menyebalkan.
Editor: Hasanudin Aco
Ah, seandainya sejak awal Prabowo-Sandi legawa, tentu tak akan ada penumpang-penumpang gelap yang menunggangi aksi demo pendukung mereka.
Kredibilitas Prabowo-Sandi pun tak akan tergerus, bahkan akan tercitrakan sebagai negarawan. Kini, ketika ‘nasi sudah menjadi bubur’, yang ada mungkin penyesalan, terutama terkait jatuhnya sembilan korban akibat kerusuhan.
Agaknya mereka bahkan mungkin kita semua alpa akan “pitutur luhur” (ajaran mulia) para leluhur bangsa ini, seperti “sura dira jayaningrat lebur dening pangastusi” (keberanian, kedigdayaan atau kejayaan dan kekuasaan dapat dikalahkan dengan kesabaran dan kelembutan), “menang tanpa ngasorake” (menang tanpa merendahkan), “kalah tanpa wirang” (kalah tanpa kehilangan kehormatan), “wani ngalah luhur wekasane” (berani mengalah akan tinggi derajatnya), dan sebagainya.
Mungkin Prabowo-Sandi baik secara yuridis maupun faktual kalah dalam pilpres, namun bila dalam menyikapi kekalahan itu mereka bersikap kestria dan elegan, niscaya bangsa ini akan mencatatnya sebagai putra-putra terbaik bangsa, dan juga seorang negarawan, yang kelak bukan tidak mungkin akan terpilih menjadi pemimpin negeri ini, terutama Sandi.
Bagi petahana Presiden Jokowi dan KH Maruf Amin, seandainya MK memutuskan pasangan calon ini yang memenangi Pilpres 2019, maka harus tetap memegang teguh ajaran “menang tanpa ngasorake”. Bersikaplah seperti Pandawa.
Sebaliknya, bagi Prabowo-Sandi, seandainya MK memutuskan pasangan ini kalah, maka harus pula tetap memagang teguh ajaran “kalah tanpa wirang”, bahkan mungkin “wani ngalah luhur wekasane”. Jangan bersikap seperti Kurawa.
Alhasil, lagi-lagi kembali ke prinsip: “menang ojo umuk” (menang jangan congkak), “kalah ojo ngamuk” (kalah jangan mengamuk).
Drs H Sumaryoto Padmodiningrat MM: Mantan anggota DPR RI / Chief Executive Officer (CEO) Konsultan dan Survei Indonesia (KSI), Jakarta.