Tribunners
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tribunners / Citizen Journalism

New Normal, Budaya Malu, dan Berita Nyesek Slavoj Žižek

Janji Jokowi untuk mengadakan test masif terhadap virus ini sulit ditepati karena biaya yang dikeluarkan sangatlah besar.

New Normal, Budaya Malu, dan Berita Nyesek Slavoj Žižek
Surya/Ahmad Zaimul Haq
Pengelola gerai berbenah dengan memperketat protokol pembatasan jumlah pengunjung dalam satu gerai jelang pemberlakuan new normal, di Tunjungan Plaza, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (29/5/2020). Selain menerapkan aturan one way system untuk menghindari pengunjung saling berpapasan satu sama lain, Tunjungan Plaza juga membatasi banyaknya pengunjung di gerai sesuai luas gerai dan pembatasan keluar masuk pengunjung di setiap gerai. 

Dari berita yang kita dapatkan, bukankah negara maju seperti China, Eropa dan Amerika, termasuk Singapura, yang persentase penduduk yang terjangkit penyakit sulit ini tinggi dibandingkan negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia?

Mengapa bisa demikian? Apakah betul, negara-negara yang katanya bebas korona memang sungguh-sungguh tidak terjangkit? Atau karena tidak diungkit?

Penyebabnya sederhana: dua M.

M yang pertama adalah ‘Malu’. Siapa yang senang kalau negaranya dianggap sumber penyakit? M yang kedua adalah ‘Mahal’.

Janji Jokowi untuk mengadakan test masif terhadap virus ini sulit ditepati karena biaya yang dikeluarkan untuk melakukan test korona terhadap 269 juta penduduk Indonesia sangatlah besar.

Kedua, anger. Banyak pihak yang marah terhadap virus ini sehingga mencari sumber penyebar sampai kambing hitam.

Bisa saja kambing hitam marah sama kelelawar hitam yang disinyalir menjadi salah satu sumber virus yang katanya asal Wuhan ini.

Karena virus ini banyak orang yang kehilangan pekerjaan sehingga menjadi marah. From hunger to anger sudah jadi kenyataan.

Dalam perjalanan untuk shooting untuk mengisi content YouTube, saya melihat pedagang sayur yang marah karena dagangannya tidak laku.

Di video yang menjadi viral, ada serombongan pedagang sayur segar yang membuang dagangannya ke sungai dengan alasan yang sama.

Halaman
1234
Editor: Sri Juliati
Sumber: TribunSolo.com
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas