Setelahnya, Iran akan membuka Selat Hormuz, yang diikuti dengan pencabutan blokade oleh Amerika Serikat.
Pembicaraan di masa mendatang baru akan berfokus pada pembatasan program nuklir Iran dengan imbalan pencabutan sanksi.
Dalam hal ini, Iran menuntut agar Washington mengakui haknya untuk memperkaya uranium demi tujuan damai, bahkan jika mereka sepakat untuk menangguhkannya.
"Di bawah kerangka ini, negosiasi mengenai masalah nuklir yang lebih rumit telah dipindahkan ke tahap akhir untuk menciptakan suasana yang lebih kondusif," papar pejabat tersebut.
Proposal formal baru ini kabarnya telah diserahkan kepada Amerika Serikat pada Kamis (30/4/2026) malam melalui Pakistan yang bertindak sebagai mediator.
Konflik bersenjata yang diprakarsai oleh AS dan Israel pada akhir Februari tersebut sempat dihentikan sementara sejak Rabu (8/4/2026).
Selepas jeda serangan, kedua belah pihak juga sempat menggelar perundingan damai yang berujung buntu di Pakistan.
Ketegangan Masih Terasa Pekat.
Seorang perwira militer senior Iran pada Sabtu (2/5/2026) memprediksi bahwa pertempuran lanjutan antara AS dan Iran mungkin terjadi.
Pernyataan ini dilontarkan hanya beberapa jam setelah Trump menolak proposal negosiasi dari Teheran.
Sementara itu, Ketua Mahkamah Agung Iran Gholamhossein Mohseni Ejei pada Jumat (1/5/2026) menegaskan bahwa negaranya tidak pernah menghindar dari negosiasi.
Ejei juga menambahkan bahwa Teheran tidak akan menerima "pemaksaan" syarat perdamaian.
Baca juga: Perang Iran Hari ke-64: 61 Persen Warga AS Tolak Perang Iran, Trump Justru Makin Menekan Teheran
Gedung Putih sejauh ini masih enggan memberikan rincian terkait proposal tersebut.
Kendati demikian, utusan AS Steve Witkoff dilaporkan telah mengajukan sejumlah amendemen yang memaksa program nuklir Teheran kembali ke meja perundingan.
Perubahan tersebut menuntut agar Iran tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya dari situs-situs yang terdampak bom, serta melarang kelanjutan aktivitas di sana selama perundingan berlangsung.
Kabar mencuatnya proposal Iran ini sempat menekan harga minyak dunia turun hingga nyaris lima persen.
Baca tanpa iklan