Meski begitu, harganya masih bertengger sekitar 50 persen di atas level sebelum perang akibat penutupan Selat Hormuz yang masih berlanjut hingga saat ini.
Di tengah kebuntuan diplomatik ini, asa masyarakat sipil kian menipis.
Amir, seorang warga Teheran, menggambarkan situasi pelik ini dengan lirih.
Baginya, situasi saat ini terasa seperti terjebak di "api penyucian" dan ia tak lagi menaruh banyak harapan pada proposal tersebut.
"Ini semua hanya membuang-buang waktu," tegasnya, sembari memprediksi bahwa Amerika Serikat dan Israel akan menyerang Iran kembali.
(Tribunnews.com/Bobby)
Baca tanpa iklan