Hal ini berkenaan dengan perbedaan usia keduannya.
Keduanya diketahui terpaut usia 10 tahun.
Kejanggalan inilah yang menjadi pertanyaan soal keterangan awal yang menyebut AK dan Giovanni Kelvin adalah ibu dan anak.
"Ada yang bertanya kenapa umurnya terpaut 10 tahun. Itu bukan anaknya, tapi itu tantenya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono seperti yang diberitakan Kompas.com.
Terungkap pula Giovanni Kelvin punya peran besar dalam kasus pembunuhan berencana ini.
Ia adalah orang yang menyiram bensin dan membakar mobil yang di dalamnya ada jasad Pupung Sadili juga Dana.
Akibat perbuatannya, ia pun mengalami luka bakar.
Giovanni Kelvin bahkan dirawat di rumah sakit akibat luka bakar itu.
Baca: Munculnya Istri Pertama Pupung dan Terungkapnya Skenario Aulia Kesuma Bunuh Suami dan Anak Tiri
Baca: Tak Cuma Istri Muda dan 4 Pembunuh Bayaran, Polisi Ungkap Peran ART pada Kasus Kematian Pupung
5. Pupung bukan orang sembarangan
Dikutip dari Wartakotalive.com, Edi Chandra Purnama alias Pupung Sadili (54) ternyata diketahui merupakan relawan pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin saat Pilpres 2019.
Hal itu dikemukakan oleh Ina (49) teman Pupung semasa menjadi relawan.
Ina menilai korban merupakan sosok yang bertanggung jawab sebagai relawan.
Meski baru satu tahun mengenal Pupung, Ina mengaku kehilangan sosok pria yang nyaris seluruh bagian tubuhnya jadi arang saat ditemukan dibakar dalam mobil.
"Dia (Pupung) baik, care sama teman. Orangnya juga senang bercanda, termasuk orang yang bisa menghidupkan suasana. Jadi kalau enggak ada sepi lah," katanya.
Tak cuma seorang pengusaha, Pupung Sadili dan M Adi Pradana rupanya memiliki peranan penting di komunitas bumi datar atau flat earth di Indonesia.
Ayah dan anak ini mendirikan komunitas bumi datar Indonesia, Flat Earth 101.
Pupung Sadili menjadi founder sedangkan M Adi Pradana menjadi co-founder.
(Tribunnews.com/Anugerah Tesa Aulia) (Tribunjabar/TribunTimur/Wartakota)