Plus Minus AHY dan Salim Segaf Jika Jadi Cawapres Prabowo Versi Pengamat
Prabowo harus betul-betul memastikan calon pendampingnya nanti bisa memberikan tambahan suara yang signifikan untuk dirinya.
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Hasanudin Aco
Kata dia, komparasi AHY dan Habib Salim juga bisa dilihat dari peluang keduanya dalam menarik pemilih potensial.
Setidaknya ada tiga faktor yang bisa dimajukan untuk memperbandingkan antara AHY dan Habib Salim. Pertama, dilihat dari latar belakang kedaerahan, Kedua, usia. Ketiga, latar belakang agama.
Walaupun lahir di Jawa, ia menjelaskan, Habib Salim merupakan tokoh dari luar Pulau Jawa.
"Dia berasal dari Pulau Sulawesi seperti halnya Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)," jelasnya.
Sementara AHY, imbuhnya, orang Jawa tulen.
Ia memberikan catatan, di dalam suatu pemilihan langsung, asal daerah seorang kandidat secara praksis masih sering dijadikan sebagai dasar pertimbangan oleh pemilih dalam memberikan suara.
Disinilah Habib Salim bisa memetik poin, menurutnya.
"Pemilih dari luar Pulau Jawa bisa ia pengaruhi. Ini soal yang lumayan penting," ucapnya.
Sebagai contoh, kata dia, pada Pilpres 2014, pasangan Joko Widodo (Jokowi) - JK, menang di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Padahal, provinsi tersebut merupakan salah satu lumbung suara terbesar PAN yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.
Gubernur Sultra pada saat itu merupakan Ketua PAN disana.
Bukan itu saja, imbuhnya, mayoritas kepala daerah dan wakil kepala di kabupaten/kota di provinsi itu juga dijabat oleh para tokoh lokal PAN disana.
Nah, mengapa Prabowo-Hatta bisa keok di Sultra sedangkan cawapresnya adalah Ketua Umum PAN?
Menurut masyarakat disana, imbuhnya, salah satu penyebabnya adalah karena pemilih di Sultra lebih mementingkan faktor JK sebagai seorang tokoh dari Indonesia bagian timur dan latar belakang kedaerahannya sebagai orang Sulawesi.