Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Penuturan Suhendro, Petugas yang Memandikan Terpidana Mati

Proses memandikan jenazah itu panjang. Setelah (terpidana) ditembak, harus dipastikan dulu sudah meninggal atau belum lalu dijahit lukanya

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Wahid Nurdin
zoom-in Penuturan Suhendro, Petugas yang Memandikan Terpidana Mati
tribunjateng/adi prianggoro
Sebanyak 17 unit mobil ambulance datang ke Pelabuhan Wijaya Pura, Cilacap, yang menjadi akses ke Pulau Nusakambangan, Rabu (28/07/2016) pagi. 

Laporan wartawan Tribun Jateng, Adi Prianggoro

TRIBUNJATENG.COM, CILACAP - Cerita dibalik eksekusi mati para terpidana mati turut dirasakan Suhendro Putro (62), pria yang bertugas memandikan jenazah para terpidana.

Pria yang sudah sejak 1992 bertugas memandikan jenazah ini turut dipanggil menjelang eksekusi 14 terpidana mati di Nusakambangan.

"Saya diminta kumpul di Polres Cilacap Kamis malam pukul 20.00 WIB lalu berangkat bareng‑bareng ke Nusakambangan," kata Suhendro kepada Tribunnews, Kamis (28/7/2016).

Karena itulah diyakini bahwa para terpidana mati dieksekusi pada Kamis Pon malam atau Jumat (29/7/2016) Kliwon dinihari.

Suhendro menyatakan dirinya sedianya bertugas memandikan 10 jenazah dari total 14 terpidana yang dieksekusi mati, meski dalam eksekusi Jumat dinihari tadi baru empat terpidana yang dieksekusi.

Kesepuluh terpidana mati yang harus dimandikan Suhendro adalah tujuh terpidana beragama Kristen dan tiga terpidana beragama Katolik.

Rekomendasi Untuk Anda

"Yang memandikan jenazah dari Kristen 11 orang dan Katolik ada enam orang," ungkap jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Cilacap tersebut.

Suhendro menceritakan waktu untuk memandikan satu jenazah sekitar 60 menit.

“Proses memandikan jenazah itu panjang. Setelah (terpidana) ditembak, harus dipastikan dulu sudah meninggal atau belum lalu dijahit lukanya, dimandikan, dipakaikan baju," terangnya.

Suhendro bukan kali pertama memandikan jenazah terpidana mati. Pada eksekusi tahap pertama, Suhendro memandikan lima jenazah terpidana dan pada eksekusi mati tahap kedua memandikan tujuh jenazah.

"Grogi sih tidak, tapi memang ini tidak ringan. Saya memandikan jenazah sudah sejak tahun 1992," terangnya.

Pada eksekusi mati tahap pertama dan kedua, Suhendro bahkan menyediakan perlengkapan kematian untuk jenazah terpidana mati. Di antaranya peti, salib, dan lainnya.

"Tetapi untuk eksekusi tahap ketiga kali ini saya tidak diminta menyediakan perlengkapan kematian. Semua perlengkapan kematian jenazah terpidana sudah disediakan pihak kejaksaan dan kepolisian," ungkapnya.

Jelang detik-detik eksekusi tak memengaruhi aktivitas masyarakat di sekitar Pulau Nusakambangan, Cilacap. Warga setempat, Kendar (34) bertutur, masyarakat sudah terbiasa dengan pelaksanaan eksekusi mati.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas