Tribun Bisnis

Selandia Baru Diprediksi Hadapi Resesi 'Dangkal', Bank Sentral Siap-siap Kerek Suku Bunga

Bank Sentral New Zealand  pekan lalu menaikkan suku bunga 75 basis poin menjadi 4,25 persen

Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Selandia Baru Diprediksi Hadapi Resesi 'Dangkal', Bank Sentral Siap-siap Kerek Suku Bunga
PYMNTS.COM
Bank sentral New Zealand berpeluang menaikkan suku bunga lebih sering setelah muncul analisis yang menyebutkan negeri itu mengalami resesi dangkal. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

 
TRIBUNNEWS.COM, WELLINGTON - New Zealand kemungkinan menghadapi resesi dangkal sehingga suku bunga perlu dinaikkan lebih lanjut demi menjinakkan inflasi.

Pernyataan tersebut diungkapkan Asisten Gubernur Bank Cadangan New Zealand (RBNZ) Karen Silk pada sebuah wawancara hari ini, Senin (28/11/2022).

Silk mengungkapkan bank sentral New Zealand akan memantau dengan cermat data frekuensi tinggi termasuk pengeluaran, investasi bisnis, dan perumahan ketika memutuskan berapa banyak kenaikan suku bunga saat pertemuan bank sentral berikutnya diadakan pada Februari.

Data inflasi untuk kuartal keempa New Zealand yang dirilis pada 25 Januari, juga akan menjadi pertimbangan utama, tambahnya.

"Bagi kami untuk mulai membalikkan posisi kami dalam hal keputusan atau bahkan secara dramatis memperlambat laju perubahan, kami perlu melihat data inflasi berubah dan kami juga perlu melihat ekspektasi inflasi turun," kata Silk, yang dikutip dari Reuters.

Bank Sentral New Zealand  pekan lalu menaikkan suku bunga 75 basis poin menjadi 4,25 persen saat negara itu berjuang menahan inflasi yang saat ini mendekati level tertinggi dalam tiga dekade.

RBNZ memperkirakan bahwa semua pengetatan kebijakan moneter ini, yang dikombinasikan dengan perlambatan pertumbuhan global, akan memicu resesi selama setahun di dalam negeri mulai pertengahan 2023.

Silk mengatakan proyeksi penurunan 1 persen dalam produk domestik bruto (PDB) selama empat kuartal akan menjadi resesi yang "relatif dangkal dan teknis", yang sebagian mencerminkan prospek pertumbuhan global yang lebih lemah.

Baca juga: Resesi Amerika Semakin Nyata, The Fed Sebut Perlambatan Ekonomi Capai Level 50 Persen di 2023

"Itu tidak sebanding dengan perlambatan yang kita lihat di GFC (krisis keuangan global) atau bahkan dalam resesi 1991," tambah Silk.

Resesi selama krisis keuangan global berlangsung selama enam kuartal dan menyebabkan penurunan total PDB New Zealand sekitar 4 poin persentase.

Silk menyatakan, tingkat yang lebih tinggi dari suku bunga diperlukan karena meningkatnya ekspektasi inflasi di Selandia Baru dan kekuatan pasar tenaga kerja yang mendorong upah lebih tinggi.

Sektor pariwisata New Zealand juga sangat kuat dalam beberapa bulan terakhir dan diperkirakan akan berlanjut selama musim panas.

Silk mengatakan, pengetatan agresif RBNZ bukanlah outlier di ruang bank sentral global, sembari mencatat bahwa Bank of Canada telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin dan Federal Reserve AS (The Fed) telah menaikkan suku bunga beberapa kali sebesar 75 basis poin.

"Jika Anda melihat beberapa indikator puncak dari suku bunga puncak, untuk The Fed misalnya, itu juga sangat mirip dengan jalur OCR terbaru kami. Jadi saya tidak akan menempatkan New Zealand di luar sana karena benar-benar jauh lebih agresif daripada banyak lainnya," ujarnya.

Anggota The Fed umumnya memproyeksikan suku bunga bisa naik sejauh 5,0 hingga 5,25 persen, dengan beberapa bahkan memperkirakan puncak yang lebih tinggi.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas