Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Amerika Serikat Jatuhkan Sanksi kepada Pejabat Kuba yang Lakukan Pelanggaran HAM saat Aksi Protes

Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan sanksi terhadap pejabat Kuba yang dianggap melakukan pelanggaran HAM saat aksi pemonstrasi pecah awal Juli

Amerika Serikat Jatuhkan Sanksi kepada Pejabat Kuba yang Lakukan Pelanggaran HAM saat Aksi Protes
Daniel SLIM / AFP
Aktivis menunjukkan dukungan bagi warga Kuba di depan Gedung Putih di Washington DC, pada 22 Juli 2021. Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan sanksi terhadap pejabat Kuba yang dianggap melakukan pelanggaran HAM saat aksi pemonstrasi pecah awal Juli 

Dilansir WSJ, ini 6 fakta mengenai aksi protes di Kuba.

1. Faktor Pencetus Aksi Protes

Ekonomi Kuba mengalami penyusutan lebih dari 11 persen pada tahun lalu di tengah pandemi.

Hal itu menyebabkan pariwisata runtuh dan penurunan pengiriman uang dari orang Kuba yang tinggal di luar negeri.

Padahal keduanya menjadi sumber pendapatan penting bagi keluarga.

Orang Kuba antre berjam-jam untuk membeli barang-barang kebutuhan pokok seperti ayam atau roti atau bahkan untuk naik bus.

Negara itu semakin menderita dengan pemadaman listrik selama berjam-jam.

Menurut pihak berwenang, dalam beberapa hari terakhir, infeksi virus corona telah melonjak dan membebani sistem kesehatan negara itu.

Setelah relatif kasus Covid-19 yang sedikit pada 2020 dan hanya 146 kematian, Kuba mengalami peningkatan tahun ini.

Kurva Covid-19 meningkat pada April 2021 dan semakin tinggi lagi lagi pada Juni 2021.

Pemerintah telah melaporkan lebih dari 1.600 kematian sejauh ini.

2. Respons Pemerintah Komunis

Ketika protes pecah pada Minggu di Kota San Antonio de los Baños, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel berbicara dengan penduduk.

Ia juga menyiarkan seruan untuk "revolusioner" untuk turun ke jalan dalam protes tandingan untuk mendukung pemerintah.

Surat kabar resmi pemerintah Kuba, Granma mengatakan, "Jalan-jalan Kuba adalah milik kaum revolusioner dan kami akan membela mereka."

"Musuh Revolusi ingin memanfaatkan masalah kita untuk menerapkan formula kerusuhan sosial yang mereka gunakan di negara lain; tetapi dengan Kuba tidak ada formula yang berhasil."

Seorang wanita memegang potret Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel selama aksi protes di Havana, pada 17 Juli 2021.
Seorang wanita memegang potret Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel selama aksi protes di Havana, pada 17 Juli 2021. (YAMIL LAGE / AFP)

Pihak berwenang memutuskan sebagian besar komunikasi dengan dunia luar dan mengerahkan pasukan keamanan di seluruh negeri.

Di antara mereka yang ditangkap adalah seniman visual Luis Manuel Otero, seorang tokoh yang sangat menonjol di antara para pembangkang Kuba.

Termasuk penyair Amaury Pacheco, dan José Daniel Ferrer, pemimpin kelompok oposisi terpenting Kuba.

3. Implikasi dari Rezim Kuba

Sejak mengambil alih kekuasaan dalam revolusi 1959, rezim komunis Kuba telah melewati sejumlah krisis ekonomi dan politik, sambil terus menentang seruan untuk perubahan dalam menghadapi embargo ekonomi AS.

Runtuhnya Uni Soviet pada 1991 membawa periode khusus, yang merupakan salah satu kontraksi ekonomi terburuk dalam sejarah Kuba.

Hilangnya dukungan ekonomi dari Soviet menyebabkan kekurangan pangan dan bahan bakar yang parah yang melumpuhkan kegiatan ekonomi.

Kuba juga mengalami kurangnya dukungan dari Venezuela yang dulu kaya minyak.

Venezuela dulunya menyediakan minyak murah ke Kuba dengan imbalan pekerja jasa seperti dokter, guru, dan penasihat lainnya.

Venezuela menghadapi krisis ekonominya di bawah pemimpin sosialis Nicolás Maduro dan dikenai sanksi AS.

Pelonggaran sanksi AS terhadap Kuba sempat dilakukan di bawah pemerintahan Obama.

Obama berjanji untuk membawa lebih banyak turis dan dolar ke negara itu.

Namun hal itu dibatalkan oleh pemerintahan Trump, yang pada akhirnya mengarah pada pengerasan posisi pemerintah komunis.

4. Perbedaan Protes Kali Ini dengan Protes Sebelumnya

Demonstrasi belum pernah terjadi sebelumnya di Kuba.

Selama enam dekade terakhir, Kuba menjadi negara di mana protes hampir tidak ada.

Semua protes dengan cepat terhalangi.

Namun para pengunjuk rasa kali ini tampak bersedia melawan pemerintah.

Sebagai seorang aparat Partai Komunis lama, Presiden Díaz-Canel dipandang oleh banyak orang Kuba tidak memiliki karisma dan legitimasi revolusioner dari para pendahulunya.

Ia tidak seperti Fidel Castro, pemimpin simbol revolusi 1959 yang meninggal pada 2016, atau saudaranya Raúl Castro, yang menggantikan Fidel sebagai presiden, tetapi pensiun pada 2018.

Awal tahun ini, Díaz-Canel menduduki jabatan tertinggi di Partai Komunis Kuba yang berkuasa.

Media sosial telah menjadi faktor penting dalam mengatur gelombang protes.

Relatif baru di Kuba, media sosial telah memberdayakan generasi muda aktivis Kuba yang menggunakannya untuk menyebarkan ide-ide mereka dan mengorganisir protes.

Ketika para demonstran berusaha untuk menyiarkan protes saat ini secara langsung dengan ponsel mereka, pihak berwenang memutuskan layanan internet pada beberapa kesempatan pada hari Minggu.

Kentik, perusahaan pemantau jaringan yang berbasis di AS, melaporkan pemadaman internet di seluruh negeri hari itu.

Layanan telepon seluler dan telepon tetap juga terputus secara selektif, melumpuhkan komunikasi dan memblokir sinyal internet dari ponsel aktivis, kata mereka.

5. Tanggapan Amerika Serikat

Presiden AS Joe Biden menyuarakan dukungan untuk para pengunjuk rasa pada Senin (12/7/2021), menyebutnya sebagai "seruan nyaring untuk kebebasan dan bantuan."

Pemerintah Kuba telah menanggapi krisis masa lalu dengan mengizinkan emigrasi massal ke AS.

Tetapi Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Alejandro Mayorkas mengatakan warga Kuba yang berusaha mencapai AS dengan perahu tidak akan diizinkan masuk.

Diaz-Canel menyalahkan pemadaman listrik, serta kekurangan makanan dan obat-obatan, pada embargo AS dan pembatasan yang diberlakukan kembali oleh pemerintahan Trump yang memutus akses Kuba ke mata uang.

Dia meminta pemerintahan Biden untuk menghapus sanksi itu.

Di Florida, rumah bagi banyak orang Kuba-Amerika, Gubernur Republik Ron DeSantis mendesak Biden untuk membantu menyediakan internet bagi orang Kuba.

Namun upaya tersebut membutuhkan peralatan di lapangan untuk mendapatkan sinyal.

Pemerintah secara ketat mengontrol impor peralatan tersebut.

"Kami sedang mempertimbangkan apakah kami memiliki kemampuan teknologi untuk memulihkan akses itu," kata Biden.

Dia mengatakan pemerintahannya sedang mempertimbangkan untuk mengizinkan lebih banyak pengiriman uang ke Kuba dan mengirim vaksin Covid-19.

Namun Biden membutuhkan jaminan, pemerintah Kuba tidak akan mengambil keuntungan dari bantuan tersebut.

6. Komunitas Black Lives Matter Buka Suara

Pada Kamis (15/7/2021), Black Lives Matter meminta pemerintah AS untuk mengakhiri embargo AS dengan alasan bahwa itu tindakan "kejam dan tidak manusiawi."

"Rakyat Kuba sedang dihukum oleh pemerintah AS karena negara itu telah mempertahankan komitmennya terhadap kedaulatan dan penentuan nasib sendiri," kata komunitas itu dalam sebuah pernyataan.

Komunitas yang berbasis di AS itu juga mencatat bahwa Kuba "secara historis menunjukkan solidaritas dengan orang-orang tertindas keturunan Afrika."

Sekitar sepertiga penduduk Kuba adalah keturunan Afrika.

Pernyataan kelompok itu memicu kontroversi di AS, di mana politisi seperti Senator Republik Florida Marco Rubio mengecam organisasi tersebut.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Berita lainnya seputar aksi protes di Kuba

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas