Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Warga 2 Desa Ini Bertaruh Nyawa Saat Akan Menyeberang Satu-satunya Jembatan Akses ke Temnpat Lain

Pemerintah belum membangun jembatan permanen kembali usai jembatan gantung di tempat itu putus akibat banjir, 2016 lalu.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Warga 2 Desa Ini Bertaruh Nyawa Saat Akan Menyeberang Satu-satunya Jembatan Akses ke Temnpat Lain
Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Kondisi jembatan bambu penghubung dua desa di dua kabupaten, Desa Larangan Pagentan Banjarnegara dan Jebengplampitan Sukoharjo Wonosobo. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng Khoirul Muzakki

TRIBUNNEWS.COM, BANJARNEGARA - Jarak dua desa di dua kabupaten, Desa Larangan Kecamatan Pagentan Banjarnegara dan Desa Jebeng Plamlitan Kecamatan Sukoharjo Wonosobo sebetulnya tidaklah terpaut jauh.

Dua desa lain kabupaten itu hanya dipisahkan oleh sungai yang memisahkan.

Tetapi waktu tempuh antar desa dan kabupaten tetangga itu bisa berjam-jam melalui rute memutar, jika tiada akses penyeberangan.

Karena itu, jembatan jadi akses penting bagi warga untuk menghubungkan mereka dengan daerah lain.

Dari situ, roda ekonomi berputar. Akses pendidikan untuk anak-anak desa pun terjamin lancar.

Baca: Tanggapan Indra Sjafri soal Tuduhan Marinus Wanewar Lakukan Pencurian Umur

Sayangnya, kondisi jembatan yang dibangun secara swadaya oleh warga itu amat memprihatinkan.

Rekomendasi Untuk Anda

Pemerintah belum membangun jembatan permanen kembali usai jembatan gantung di tempat itu putus akibat banjir, 2016 lalu.

Warga kemudian membangun jembatan darurat sepanjang sekitar 60 meter menggunakan batang bambu yang saling dikaitkan.

Termasuk pagar jembatan berbentuk segitiga untuk pengaman warga yang melintas.

Tiang jembatan pun tak cukup kokoh karena hanya dibuat dengan tatanan batu yang diikat dengan bambu.

Baca: Bukan Hanya Kiper Chelsea, Messi Ternyata Juga Pernah Menolak Diganti Pelatih

Bunyi gemeretak saat jembatan dilindas roda kendaraan cukup menegangkan syaraf penyeberang.

"Dulunya itu jembatan gantung, terus putus akibat banjir,"kata Kepala Desa Larangan Kecamatan Pagentan Kabupaten Banjarnegara

Saat debit air sungai normal, jembatan masih terlihat perkasa dilintasi sejumlah kendaraan.

Tetapi lain halnya, saat debit air naik, bangunan itu terlihat sekali kerapuhannya.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas